Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 28-07-2015
  • 2352 Kali

Orang Baik, Niatnya Selalu Baik, Sebesar Apapun Aral Melintang

News Room, Rabu ( 29/07 ) Menyampaikan materi pengajian kitab klasik berbahasa Arab tidak mudah. Apalagi, jika jamaah yang mengikutinya berasal dari kalangan awam. Seperti yang dikatakan oleh salah satu tokoh agama di Sumenep Kiyai Moh. Raheli, yang juga pimpinan majelis dzikir di Langgar Kiyai R. Wongsoleksono,   Desa Pandian.

Menurut alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah Guluk-guluk ini dalam menyampaikan materi, harus dengan metodenya yang ringan, namun mampu menyentuh pemahaman jamaah.

"Apalagi tidak semua jamaah memiliki latar belakang pesantren. Jadi memang harus menggunakan bahasa yang ringan. Apalagi menerjemahkan kitab klasik berbahasa Arab memang tidak mudah. Yang membacanya mungkin bisa paham, tapi ketika disampaikan atau dijelaskan lagi, kadang tidak mudah memahamkannya pada orang lain," kata ayah dari empat anak ini, pada News Room.

Namun ketika kembali pada tingkat pemahaman, antar jamaah tentu tidak sama. Ibarat dalam sebuah kelas, dengan sarana prasarana (sarpras) yang sama, guru yang sama, sekaligus perlakuan yang sama, maka tak lantas menghasilkan siswa yang sama tingkat keberhasilannya menyerap ilmu.

Oleh karena itu, menurut Kiyai Raheli, seseorang itu mesti menata niat. Karena dari niat itu semua perbuatan berawal. "Jadi kalau orang yang baik, itu pasti memiliki niat atau kehendak yang baik, sebesar apapun aral yang melintang. Nah, ketika itulah datang pertolongan Allah. Sehingga ilmu yang didapat mampu dipahami sepenuhnya, sekaligus bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain," tambahnya.

Sehingga dengan demikian, menurut Kiyai Raheli, dalam menjalani hidup, secara garis besarnya, seseorang hanya cukup berniat baik, menaati perintah Allah sekaligus menjauhi larangan-Nya. Karena yang namanya surga, neraka, bahagia dan sengsara itu sudah ditetapkan Allah sejak jaman azali. " Jadi hidup itu bukan kebetulan, melainkan kepastian," tegasnya. ( Farhan, Esha )