News Room, Selasa ( 28/09 ) Tragis nian nasib 76 siswa SDN Pagarbatu, Kecamatan Saronggi. Keinginan untuk menimba ilmu, kandas sudah, sebab para siswa tersebut yang numpang belajar di lembaga Madrasah Diniyah Fajar Islam Pagarbatu diusir oleh warga setelah 3 bulan numpang. Siswa SDN Pagarbatu ini menumpang di lembaga Diniyah setelah sekolahnya di segel pemilik lahan sejak awal bulan Juli 2010 lalu. Salah seorang guru SDN Pagarbatu, Kecamatan Saronggi, Muhammad Erfan mengatakan, pengusiran siswa itu, karena sampai sekarang belum ada penyelesaian dari pemerintah setempat. “Warga mengusir siswa untuk masuk sekolah, alasannya memang karena belum ada penyelesaian dari Pemerintah Kabupaten Sumenep. Kami sudah berusaha melakukan komunikasi dengan wali murid maupun warga setempat, tapi tetap saja tidak berhasil. Mereka beranggapan, kalau siswa tetap bersekolah, persoalan tersebut tidak akan kunjung ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep,”kata Erfan, pada wartawan di depan halaman Madrasah Diniyah Fajar Islam, Saronggi, Selasa (28/09). Erfan mengungkapkan, para siswanya sudah dua hari tidak masuk sekolah, sebab tidak diperbolehkan melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di lembaga Diniyah tersebut. “Siswa kami memang dilarang masuk ke sekolah ini oleh masyarakat. Alasannya, lembaga diniyah akan digunakan pada pagi hari sebagai bentuk protes pada pemerintah yang tidak tanggap pada kondisi pendidikan SDN Pagarbatu tersebut,”ujarnya menambahkan. Dengan kejadian itu, kara Erfan, secara otomatis Kepala SDN Pagarbatu bersama 15 orang guru tidak bisa memberikan pendidikan pada anak didiknya. “Kemana lagi kami harus menumpang. Mau kembali ke sekolah lama juga tidak mungkin, karena gedung SDN Pagarbatu yang disegel warga tetap ditutup dan terdapat spanduk rentang yang bertuliskan ‘Sekolah SDN Pagarbatu ditutup karena dibangun di atas lahan hasil rampokan,”ungkapnya. ( Nita, Esha )