News Room, Selasa ( 13/01 ) Nelayan di Kabupaten Sumenep, baik di Kecamatan/Kepulauan Masalembu dan Kecamatan Dungkek, tidak melaut karena cuaca buruk dan gelombang setinggi 4 meter. Kondisi itu sangat berbahaya bagi keselamatan para nelayan. Akibatnya, ribuan perahu ditambatkan di pinggir pantai. Musahna, salah seorang nelayan Bintaro, Gapura, menjelaskan, sejak gelombang laut tinggi, pihaknya lebih memilih tidak melaut dan menambatkan perahunya. “Saya tidak berani melaut, apalagi gelombang masih tinggi,â€Âujarnya kepada wartawan, di Pelabuhan Rakyat Bintaro, Gapura, Selasa (13/01). Untuk mengisi kekosongan selama tidak melaut, kata dia, selain memancing ikan ditepi laut, para nelayan Bintaro kebanyakan mengecet perahunya, supaya kelihatan baru lagi. Hal senada juga dilontarkan Kepala Desa Masalima, Agus Dianto. Ia menjelaskan, cuaca buruk yang terjadi di perairan Masalembu, sebenarnya sudah terjadi sejak 10 hari lalu (3/1). Tapi, kondisi yang paling parah sejak Kamis (08/01) lalu dan hingga sekarang. “Jadi, para nelayan masih belum berani melaut. Mereka takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika dipaksakan melaut, sebab ketinggian ombak diperairan Masalembu mencapai 4 meter,â€Âkatanya saat dihubungi melalui telepon genggamnya. Ia menerangkan, sebelum 8 Januari 2009, sebagian kecil nelayan masih ada yang melaut di sekitar pantai. Namun, sejak 8 Januari 2009, terjadi air pasang dan membuat semua nelayan tidak ada lagi yang melaut. “Dipastikan beberapa hari ini, nelayan di Masalembu tidak ada yang berani melaut,â€Âtegasnya. Data yang diperoleh News Room, di Kecamatan Masalembu terdapat sekitar 1.700 perahu nelayan. Setiap perahu, rata-rata terdapat 4 nelayan. Sedangkan, Kecamatan Masalembu memiliki 4 Desa yang tersebar di 3 pulau, yakni Desa Masalima dan Sukajeruk berada di Pulau Masalembu, Desa/Pulau Masakambing, dan Desa/Pulau Keramian.( Nita, Esha )