News Room, Sabtu ( 06/03 ) Adanya beberapa kapal porsein yang selama ini beroperasi di daerah kepulauan Kangean, rupanya bisa membuat nelayan lokal lebih leluasa beraktifitas di perairan seputar kepulauan. Terbukti, setelah beberapa kapal luar sempat menjadi terget operasi Satpolair, bahkan 2 diantaranya juga sudah diproses secara hukum, bisa berdampak kepada hasil penangkapan ikan nelayan lokal. Saat ini, nelayan sudah bisa leluasa mencari ikan di daerahnya sendiri, tanpa ada rasa cemas seperti dulu ketika harus berhadapan dengan perahu-perahu porsein dari Jawa Tengah yang selama ini banyak beropersi di seputar peraiaran kepulauan Kangean dan sekitarnya. Kepala Desa Saobi Kecamatan Arjasa, Rifa’ie Rach dihubungi News Room melalui telepon selulernya tadi siang, Sabtu (06/03) menjelaskan, saat ini para nelayan di Desanya bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya dalam beberapa minggu ini sulit ditemukan kapal-kapal luar yang beropersi di peraiaran yang biasa menjadi tempat mencari ikan para nelayan setempat. “Kami berharap suasana seperti itu bisa berlangsung terus, sebab jika nantinya kembali ada yang mengusik, khawatir kesabaran mereka tidak terkontrol,â€Âujar Rifa'ie. Menurut Kades yang juga pengusaha ikan ini berharap pihak aparat terkait, agar melakukan langkah-langkah dalam menangani persoalan warga nelayan di kepulauan. Sebab, masyarakat nelayan yang selama ini sudah sempat menikmati hasil tangkapan ikan yang lumayan, dibandingkan ketika banyak kapal porsein yang bergerilnya di kepulauan Kangean dan sekitarnya itu. Bahkan, Rifa'ie mengaku tidak ingin kejadian beberapa tahu lalu kembali terjadi. Yakni, ketika kekesalan warga memuncak, mereka melakukan pengusiran kepada kapal-kapal ponsein yang disinyalir menggunakan peralatan tangkap ikan yang diyakini menghabisi ikan-ikan kecil yang sebenarnya merupakan potensi bagi nelayan setempat dimasa yang akan datang. “Wajar jika para nelayan merasa kesal, sebab mereka menggunakan alat tangkap yang dilarang atau tidak selayaknya beroperasi di perairan seputar kepulauan di Sumenep, sehingga, nelayan lokal yang setiap hari mengandalkan penghasilan dengan menangkap ikan, tidak dapat mencukupi kehidupan sehari-harinya,â€Âpungkasnya. ( Ren, Esha )