Media Center, Jumat ( 07/07 ) Desa Batuampar, Kecamatan Guluk-guluk merupakan salah satu tempat bersejarah kuna di Kabupaten Sumenep. Di masa lampau, tempat ini merupakan lokasi keramat. Hal itu tidak bisa lepas dari sosok Kiai Abdullah alias Bindara Bungso, tokoh agung yang pertama kali membabat tanah Batuampar.
“Bindara Bungso ini berasal dari Sumenep. Namun sejak kecil diangkat sebagai anak oleh pamannya, Kiai Abdurrahman atau Kiai Raba di Pamekasan,”kata R. Abubakar, salah satu tokoh di Desa Batuampar, pada Media Center.
Ibu Bindara Bungso ini adalah saudara perempuan Kiai Raba. Sedangkan ayah dari Bindara Bungso ialah Kiai Abdul Qidam atau Kiai Arsoji yang pasareannya ada di Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan. Sejak kecil, Bindara Bungso ini dikenal sebagai sosok yang cerdas, sehingga beliau lantas menggantikan pamannya, Kiai Raba, morok (mengajar) para santri.
“Namun tak lama kemudian, Bindara Bungso ini disuruh pindah ke sebuah lokasi yang sekarang ini bernama Batuampar,”kata Dhin Bakar, panggilan Abubakar.
Sebutan Batuampar mengacu pada lokasi dalem awal Bindara Bungso, yaitu sebuah area yang berupa hamparan batu atau disebut batu ngampar. Di tempat itulah kemudian Bindara Bungso membangun sebuah gubuk sederhana dan menjadi tabib.
“Saat itu, di lokasi sini penduduknya banyak yang jauh dari agama. Bahkan sudah meninggalkan agama. Saat itulah Bindara Bungso datang. Mungkin hal itu semacam misi atau tugas dari pamannya untuk memperbaiki akhlaq penduduk sini,”imbuh Bakar.
Kedatangan Bindara Bungso bersama 4 santri dari Raba awalnya tidak melakukan pendekatan keilmuan. Beliau justru membantu penduduk setempat terkait dengan permasalahan yang membebani mereka. Mulai dari orang sakit hingga masalah kesulitan ekonomi.
“Ada orang sakit gigi datang ke beliau, lalu didoakan dan atas ijin Allah langsung sembuh. Ada yang sakit parah juga sembuh. Ada yang tidak punya uang, didoakan langsung pulangnya dapat rejeki tiban, dan lain sebagainya,”tambah Bakar.
Lambat laun, nama Bindara Bungso terkenal hingga ke pusat pemerintahan di Kabupaten Sumenep. Bahkan, penguasa Sumenep sangat menghormati beliau dan menghadiahkan tanah Batuampar pada Bindara Bungso. Beliau lantas dikenal dengan julukan Kiai Agung Batuampar. Lokasi tersebut pun mulai ramai. Dari yang awalnya mengadukan permasalahan hingga belajar ilmu agama.
Bindara Bungso pun dari awalnya menjadi tabib yang penuh karomah lantas berposisi sebagai guru agama. Karena banyak yang mau belajar dan penduduk mulai banyak di sekitar dalem beliau, akhirnya dibangunlah sebuah langgar. Langgar itu pun ternyata tak mampu memuat banyaknya jamaah dan penuntut ilmu. Akhirnya beliau membangun sebuah masjid yang hingga saat ini berdiri kokoh di Batuampar.
Di sebelah barat masjid adalah area pasarean beliau dan keturunannya di sana. Bindara Bungso memiliki 3 isteri dan beberapa putra-putri. Salah satu putranya ialah Bindara Saut, salah satu tokoh legendaris keraton Sumenep. Dari putra-putri lainnya, keturunan beliau menyebar di seluruh Madura hingga tapal kuda.
Rata-rata kiai-kiai di
pesantren-pesantren kuna Sumenep dan Pamekasan adalah keturunan Bindara Bungso. ( M Farhan, Esha )