News Room, Senin ( 06/07 ) Masjid Jamik Batuampar merupakan salah satu masjid tertua di Sumenep, khususnya di area bagian barat Kabupaten ini. Masjid ini dibangun oleh Kiyai Abdullah bin Abdul Qidam, salah satu ulama besar di masanya. Kiyai Abdullah ini adalah ayah dari Bindara Saut, Raja Sumenep yang bergelar Tumenggung Tirtonegoro.
"Masjid ini dibangun tahun 1002 Hijriah atau 1583 Masehi,"kata Raden Bagus Muhammad Ishaq, salah satu keturunan Kiyai Abdullah dari jalur Bindara Saut, di Desa Batuampar, Kecamatan Guluk-guluk, pada News Room.
Angka ini didasarkan pria yang akrab dipanggil Gus Ishaq ini pada manuskrip kuna yang saat ini tersimpan di rumahnya. Hingga saat ini, masjid ini masih original, khususnya di bangunan utama. Memang ada sedikit tambahan, tapi hal itu tidak merubah bagian aslinya.
"Memang sempat direnovasi, kemarin dapat bantuan dari Depag (sekarang Kemenag). Namun tidak merubah bagian dalam yang merupakan bangunan original,"kata Gus Ishaq.
Jika tahun berdiri masjid tersebut benar, maka masjid Jamik Batuampar tak hanya lebih tua dari Masjid Agung Sumenep yang didirikan oleh Panembahan Sumolo, putra Bindara Saut, namun juga bahkan lebih tua dari Masjid Lama (Masegit Laju) di Kelurahan Kapanjin, Kecamatan Kota Sumenep, yang dibangun tahun 1639 Masehi oleh Tumenggung Anggadipa.
Masjid Batuampar ini banyak menyimpan cerita yang melegenda. Karena masjid ini letaknya berkumpul dengan makam pendirinya, Kiyai Abdullah. Ada yang mengatakan bahwa masjid ini dibangun dengan karomah Kiyai Abdullah saat pindah dari Pamekasan ke Batuampar, maupun cerita-cerita lain yang tentu tidak bisa dinalar oleh akal. Namun yang pasti masjid ini juga pernah menjadi pusat jujukan ilmu. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak ulama-ulama besar Madura, bahkan ke daerah tapal kuda adalah keturunan Kiyai Abdullah. ( Farhan, Esha )