News Room, Rabu ( 02/07 ) Meski terkadang jatuh berkali-kali, rupanya petani tembakau di Kabupaten Sumenep tidak jera. Keinginan untuk memperoleh hasil seperti beberapa tahun yang lalu, selalu diimpikan akan kembali menjadi kenyataan. Meski setiap panen tembakau akhirnya gigit jari yang harus diterima petani, namun nekat dengan keyakinan setengah hati antara untung dan rugi, yang penting mencoba untuk menanam. Salah seorang warga Desa Bumbungan Kecamatan Bluto, Sadik (52 th) misalnya, ketika ditemui News Room saat sedang menyiram tanaman tembakaunya yang baru berumur sekitar 3 minggu di persawahan Desa Gedungan Kecamatan Batuan, Rabu pagi (02/07) menyatakan pasrah akan bernasib bagaimana pada masa panen nantinya. Sementara untuk saat ini, Sadik mengaku, yang terpenting terus bekerja keras dan berdo’a, semoga hasilnya seperti sebelum lima tahun lalu, yang hasilnya boleh dibilang bisa dua-tiga kali lipat dari modal uang dan tenaga yang diperoleh. Namun bila mengingat di tahun 2006 dan 2007 lalu, menurut Sadik, dirinya yang mengaku ditemani istrinya menanam tembakau, tidak dapat mengembalikan modal yang dikeluarkan. Kalau di tahun 2006 memang diakui masih ada keuntungan dari hasil tanaman sebanyak 15.000 pohon dengan modal sekitar Rp. 7 juta bisa mendapat hasil dua kali lipat kotor. Belum termasuk tenaga 2 orang selama tiga bulan sejak tanam hingga panen. Sedangkan pada tahun 2007 lalu, Sadik justru mengaku jangankan dapat hasil, mengembalikan modalnyapun masih jauh, apalagi jika dihitung dengan tenaganya, yang menjaga tanamannya siang dan malam agar bagus. Tapi malah yang terjadi hujan menghantam pada saat musim petik bunga tembakau dilakukan, sehingga tanamannya di tolak oleh gudang, dan akhirnya dijual murah kepada tengkulak asal Desa Pakandangan Kecamatan Bluto. Namun Sadik tetap tidak jera, untuk musim tanam tahun ini, bersama istrinya kembali mencoba untuk menggenggam uang jutaan dari hasil menjual tembakau yang dulu dikenal daun emas itu. “Tak banyak, hanya 10.000 pohon dan sewa lahan sebesar Rp. 1,5 juta. Sedangkan kerjanya kami secara bergantian, dengan petani lain saling tolong. Jadi sama-sama tidak perlu bayaran.â€Âungkapnya polos. Hal yang sama juga diungkapkan Salam (57 th) asal Desa yang sama yang juga bersama istrinya ketika ditemui di gubuk kecil ditengah sawah sewaannya. Namun Salam rupanya menanam lebih banyak dibandingkan milik Sadik. Ada sekitar 30.000 pohon, karena memang dibantu familinya. Sadik berharap, nantinya daun emasnya akan aman dari hama dan cuaca yang tidak bersahabat, sehingga hasilnya akan diterima gudang besar di Sumenep, seperti sekitar 5 tahun lalu. Usaha tanam tembakau yang tetap menjadi pilihannya, karena diakui Salam, sementara untuk mencoba tanaman lain juga tidak pernah berhasil. Kalaupun hasil namun tidak seberapa dibandingkan dengan hasil ketika tembakau berharga mahal. ( Ren, Esha )