News Room, Kamis (11/06) Meskipun potensi hasil produksi rumput laut di Kabupaten Sumenep cukup bagus, bahkan menjadi penghasil rumput laut terbesar di Jawa Timur, namun saat ini harga jualnya mengalami penurunan drastis. Hal tersebut diakui Ketua Koperasi “Aneka Usaha†Desa Aeng Dake Kecamatan Bluto, Mashuri. Menurutnya, jika dibandingkan harga rumput laut sebelumnya, pada musim panen bulan lalu turun hingga lebih setengah harga sebelumnya. Hal itu disebabkan faktor bencana yang terjadi di Philipina , dan secara kebetulan juga ada kegiatan Olimpiade di Beijing. “Kemungkinan dua faktor tersebut yang menjadikan pasar ekspor dunia menurun. Sehingga terpaksa pengambilan harga rumput laut dari petani juga ikut menurun,†aku Mashuri. Dijelaskannya pula, harga rumput laut pada musim panen tahun lalu harganya mencapai Rp. 14.000 – Rp. 18.000 per kg. Namun, tahun ini hanya berada di kisaran Rp. 7000 per kg. Jika dilihat dari sisi investasi tetap untung, namun dalam analisa usaha yang dilakukan Koperasinya keuntungan menjadi lebih kecil. Mashuri mengaku, pihaknnya tetap harus mempersiapkan produksi rumput laut dengan keadaan siap saji, agar memudahkan dalam melakukan ekspor keberbagai negara, seperti China dan Hongkong. Sebab, Madura sendiri merupakan daerah alternatif jalur ekspor, ketimbang produksi rumput laut asal Sulawesi dan Kupang, yang juga penghasil rumput laut cukup besar di Indonesia. Karena itu, letak geografis Madura yang menguntungkan merupakan peluang yang tidak boleh disia-siakan. Meskipun pasar dunia turun, namun usaha rumput laut harus tetap jalan. Oleh karena itu, pihaknya terus menerima masukan hasil rumput laut tidak hanya dari Kecamatan Bluto dan Saronggi, namun juga menerima dari luar Kecamatan, seperti Gili Genting, Talango dan dari daerah kepulauan lainnya yang memiliki potensi hasil rumput laut. Sebab, dari sisi permintaan ekspor masih tetap menerimah jumlah yang lebih besar dari Indonesia. ( Ren, Adjie )