Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 30-03-2011
  • 598 Kali

Meredam Aksi, Rektor Unija Undang Mahasiswa Duduk Bareng

News Room, Sabtu ( 31/03 ) Buntut aksi yang dilakukan mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, beberapa hari terakhir ini disambut positif oleh Petinggi Akademisi setempat. Buktinya, Sabtu (31/03) pagi, Rektor Unija, Alwiyah, mengundang perwakilan aktivis mahasiswanya guna duduk bareng membicarakan seputar tuntutan yang dilayangkan, disaksikan langsung Ketua Yayasan Unija, Kurniadi Widajaja. Namun, undangan tersebut justru dianggap hal tidak wajar oleh aktivis mahasiswa Unija, Zainullah. “Kami kaget ketika menerima undangan itu. Mestinya yang mengundang adalah Yayasan, untuk dipertemukan dengan Rektor dan Senat, tapi ternyata tertulis Rektor Unija, bahkan ditentukan siapa yang harus hadir. Ini kan aneh, kami yang menuntut justru dibatasi untuk datang pada pertemuan Sabtu (31/03) pagi. Kami kan Aliansi Mahasiswa, seharusnya semua berhak hadir,” kata Zainol, di halaman Unija Sumenep, Sabtu (31/03). Ketidakwajaran itu membuat perwakilan mahasiswa memilih “Walk Out” dari pertemuan tersebut. Zainullah juga menyesalkan, mengapa dalam pertemuan tersebut, tidak dihadiri lengkap oleh pihak Yayasan, melainkan hanya dihadiri Ketua Yayasan, dan melibatkan pihak luar seperti BEM Fakultas. “Kalau pihak Rektorat maupun Yayasan tidak kunjung mengindahkan tuntutannya, terkait penjelasan penggunaan keuangan Universitas Wiraraja atau Rektor harus turun dari jabatannya, maka pihaknya tidak segan-segan akan mendatangi Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep. Tuntutan kami akan semakin melebar kalau tidak kunjung ditanggapi. Kami bertekad akan datangi Pemkab Sumenep, guna menanyakan aset karena kelahiran Unija tak lepas dari keterlibatan Pemkab,” terangnya. Sementara, Ketua Yayasan Wiraraja Sumenep, Kurniadi Widjaja, menjelaskan, sesuai undang-undang, kehadiran Yayasan bisa diwakili oleh Ketua atau Wakil Ketua. “Untuk menghadirkan Yayasan secara keseluruhan, rasanya nyaris mustahil. Di seluruh Indonesia, tidak pernah ada keharusan seluruh pengurus Yayasan bertemu dengan mahasiswa. Pengurus Yayasan hadir lengkap apabila ada Dewan Pleno yang membutuhkan keputusan misalnya penyusunan anggaran,” ujarnya. Kemudian terkait tuntutan soal aset, Kurniadi mengaku tidak mengerti, aset mana yang dipersoalkan mahasiswa. Karena aset Wiraraja berupa tanah yang digunakan, masih ada dan tidak dipindahtangankan atau dibalik nama. “Bisa dilihat kan kalau aset ini ada. Ini hak pakai hingga 2024. Saya ini sebenarnya ingin menjelaskan soal itu. Tapi bagaimana kami bisa menjelaskan kalau adik-adik mahasiswa ini tidak mau mendengarkan? Diajak dialog justru keluar ruangan. Kami memang berharap persoalan ini bisa selesai, kami bisa bicara baik-baik dan dialog dengan mahasiswa,” ungkapnya. ( Nita, Fery )