Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 16-11-2015
  • 84698 Kali

Merawat Keris Atau Pusaka Lebih Baik Dengan Tumbuh-Tumbuhan

News Room, Selasa ( 17/11 ) Merawat keris pusaka ada cara tersendiri. Bagi masyarakat Jawa ada istilah menjamas, sedang di Madura, atau khususnya Sumenep dikenal dengan istilah aloco. Maksud keduanya sama, yaitu bertujuan untuk membersihkan keris dari kotoran besi atau karat.

"Tujuan lainnya untuk lebih menghitamkan besi dan memutihkan pamor keris," kata salah satu kolektor keris di Sumenep, R Abubakar, pada News Room.

Mengenai bahannya, berdasar tradisi kuna, menurut Abubakar diutamakan dari bangsa tumbuhan. Seperti jeruk nipis (limau yang kecut), belimbing kecut, mengkudu masak, maupun bubur yang dicampur air. "Itu proses awal untuk menghilangkan karat. Setelah itu baru diberi warangan,"tambah Abubakar.

Cara menghilangkan karat tersebut dengan merendam keris dalam air bercampur salah satu bahan di atas selama 2 atau 3 hari sambil sekali-kali keris digosok atau disikat. Setelah itu dicuci bersih dengan air dan dijemur. Baru kemudian diwarangi dan dijemur lagi.

"Setelah dijemur, dicuci dengan air dan diberi dedak jagung untuk mengeringkan air. Lalu dibersihkan dedaknya. Setelah benar-benar kering diminyaki," jelas Abubakar.

Untuk minyak biasanya diambil dari minyak biji kesambi atau minyak cendana. Minyak biji kesambi bersifat menghidupkan sekaligus menebalkan racun yang ada di keris. "Konon minyak kesambi itu mengandung cian-kali atau racun yang sangat ampuh," imbuh Bakar.

Disamping kedua jenis minyak tersebut, bisa juga memakai minyak kelapa asli. Dan yang sangat tidak dianjurkan memakai bahan untuk merawat keris dari bahan yang bersumber dari hewan. "Itu bukan tradisi. Meski memang ada yang merawat dari bahan selain tumbuhan. Seperti meminyaki keris dengan minyak atau lemak gajih dari ayam. Jadi selain yang saya sebut di atas tidak baik untuk dijadikan bahan merawat pusaka," tutup Bakar. ( Farhan, Esha )