Media Center, Senin (14/06) Tak banyak yang tahu akan kehidupan masa lalu. Padahal, sebelum masa
lalu ada masa yang disebut masa purba atau purbakala.
Meski sama-sama telah lama terjadi, kedua
masa ini memiliki perbedaan. Masa lalu masih bisa dikenal melalui ingatan, atau
tulisan (prasasti, manuskrip), atau lukisan yang menggambarkan suatu peristiwa,
sebagai pertanda. Di samping, ada periwayatan yang sifatnya bersanad.
Namun masa purba hanya bisa dikenali dengan
dua cara, yaitu melalui arkeologi dan pelestarian cagar budaya.
Hari ini, tanggal 14 Juni, ternyata
merupakan peringatan Hari Purbakala, lho. Bagaimana ceritanya? Dulu, lebih
dari seabad silam, tepatnya tanggal 14 Juni 1913, berdirilah Oudheidkundige
Dienst in Nederlandsch Indie atau Jawatan Purbakala. Jawatan tersebut
merupakan lembaga yang menangani peninggalan purbakala di era kolonial.
Perlu diketahui, sebelumnya, pada tahun
1901, Pemerintah Kolonial Belanda sebenarnya telah memiliki jawatan
kepurbakalaan yang diberi nama Commissie
in Nederlandsche-India voor oudheidkundig op Java en Madoera.
Jawatan Purbakala atau Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie,
pertama kali dipimpin oleh N.J. Krom, seorang ahli Arkeologi berbangsa Belanda
yang lahir di Hertogenbosch, 5 September 1883. Melalui jawatan itu dilakukanlah
upaya pelestarian terhadap benda-benda peninggalan purbakala di negeri ini. Jawatan
ini terus berjalan dan berkembang seiring berputarnya roda zaman. Berkali-kali
ganti nama, hingga berdirinya NKRI.
Pada mulanya, lembaga purbakala yang
didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda tersebut memiliki dua fungsi
sekaligus, yaitu fungsi pelestarian peninggalan purbakala dan fungsi penelitian
arkeologi. Dua fungsi tersebut sekarang dipegang oleh Direktorat Pelestarian
Cagar Budaya dan Permuseuman (Dit PCBM), dan Pusat Penelitian Arkeologi
Nasional (Puslitarkenas).
Ketika membahas tentang kepurbakalaan,
sangat menarik perhatian adalah ketika Belanda juga membidik Madura menjadi
sebagai daerah yang layak untuk dijadikan sebagai bagian dari pusat studi
kepurbakalaan di era pembentukan jawatan kepurbakalaannya.
Hal ini setidaknya sedikit memberikan
informasi penting bagi kita tentang “kekayaan” kepurbakalaan Madura yang bisa
menjadi sumber sejarah yang begitu penting untuk dituliskan. Seperti halnya
yang dilakukan oleh Balai Arkeologi
Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan ini di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep.
Upaya eksplorasi tinggalan arkeologi di
tempat ini dilakukan sejak akhir Mei 2021 hingga pertengahan Juni 2021. Tujuan
penelitian kepurbakalaan yang dilakukan kali ini adalah untuk menelisik jejak
migrasi yang terjadi pada prasejarah.
Beragam temuan arkeologis sudah didapatkan dari penelitian di tempat ini, yang dilakukan dalam kurun waktu 2018, 2019 dan 2021. Penelitian yang difokuskan pada keberadaan gua-gua yang diindikasikan menjadi hunian manusia pada masa prasejarah.
Beragam aktivitas manusia tentu
telah dilakukan oleh manusia di zaman itu, dan dalam aktivitasnya mereka akan
meninggalkan jejak-jejak sejarah yang mampu memberikan petunjuk bagi kita
tentang apa yang mereka lakukan.
Di tengah peringatan Hari Purbakala yang
ke-108, tim peneliti tetap berada di Pulau Kangean untuk melakukan ekskavasi.
Beragam temuan yang meliputi alat-alat batu (lithic), fosil binatang laut, tulang dan gigi manusia menjadi
penyemangat tim dalam melakukan tahapan-tahapan penelitian arkeologi yang ada.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim
Peneliti Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta akan memberikan banyak
manfaat bagi kita dalam memahami sejarah kampong halaman kita. Selamat
memperingati hari kepurbakalaan yang ke-108 untuk Tim Peneliti yang sedang
menjalankan tugas penelitiannya di Pulau Kangean.
(Han)