Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 12-10-2016
  • 640 Kali

Mengintip Praktek Merangkai Lampu Di MA 2 An-Nuqayah

News Room, Kamis ( 13/10 ) Meski tidak seperti Thomas Alva Edison yang menemukan bola lampu listrik pertama. Namun, uji coba yang digaungkan pelajar kelas XII MA 2 An-Nuqayah patut diapresiasi.

Sedikitnya sembilan remaja di madrasah mencoba untuk mengembangkan ilmu kelistrikan dengan menggunakan baterai ABC. Itu dilakukan saat praktek membuat rangkaian listrik terbuka dan tertutup seminggu lalu.

Dengan riang gembira, siswa yang didampingi pembimbing Ahmadi melaksanakan tugasnya dengan baik. Meski tidak menggunakan bahan mahal, hanya cukup baterai ABC mereka bisa berkreasi.

Guru pembimbing Ahmadi menyatakan, penerapan itu hanya dilakukan dengan menggunakan sumber tegangan baterai ABC yang baru sebanyak tiga buah. Ditambah dengan perlengkapan lain seperti kawat penghantar atau konduktor.

”Satu baterai berisi 1,5 volt. Tinggal dikalikan kalau tiga baterai berapa voltasenya. Sedangkan lampu menggunakan 4 watt, kabel satu meter setengah, bisa dua meter tergantung kebutuhan,” katanya, pada News Room.

Untuk mempermudah proses penyambungan listrik, siswa harus menggunakan papan berukuran 40 x 30 centimeter sebagai penyangga kabel dan sakelar. Setelah dipastikan tersambung semua, lampu bisa nyala.

”Listrik tertutup tekan tombol on, sementara terbuka tekan tombol off. Dengan menggunakan ketiga baterai bisa tahan selama seminggu,” jelasnya.

Menurut dia, praktek itu merupakan tindak lanjut dari pelajaran ilmu fisika yang disampaikannya selama proses belajar mengajar berlangsung. ”Selanjutnya, siswa membuktikan dengan mencoba dari teori ke praktek,” tandasnya.

Praktek merangkai lampu, kata Ahmadi, tidak hanya dipraktekkan di MA 2 An-Nuqayah saja. Tetapi, di beberapa sekolah lanjutan seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP) tempat dia mengajar. Praktek itu dilakukan, agar siswa tidak hanya diajari teori melainkan juga dengan prakteknya. ”Dengan langsung praktek anak-anak bisa langsung ingat sesampainya di rumah,” terangnya.

Terpisah, salah satu alumnus MTs Al-Falah, salah satu lembaga di Desa Guluk-Guluk, Syaiful Bahri membenarkan praktek yang biasa dilakukan gurunya tersebut. Meski praktek tidak dilakukan dalam setiap tatap muka, minimal, teori yang diajarkan dalam dua kali tatap muka biasanya langsung dipraktekkan di pertemuan berikutnya dinilai sudah cukup.

”Kami lebih banyak mengerti dengan praktek. Biasanya, pelajaran seperti fisika dan matematika sulit untuk cepat difahami. Kecuali, kalau kami langsung praktek,” akunya.

Syaiful merasa bersyukur, karena dengan praktek itu, anak-anak bisa membentuk komuntitas untuk merangkai lampu secara bersama. Dengan berbentuk kelompok itu, lampu yang masih belum menyala bisa dipecahkan bersama-sama. ”Di rumah kami juga bisa praktek sendiri. Kalau mati lampu, hanya berbekal beterai ABC kamar bisa terang,” ucapnya. ( M. Farhan, Fer )