News Room, Selasa ( 07/04 ) Wilayah kepulauan Masalembu tidak hanya identik dengan mata pencaharian laut atau nelayan. Di kepulauan yang perairannya pernah menjadi lokasi tenggelammya KMP Tampomas II tahun 1981 silam itu, juga akrab dengan usaha kopra, atau daging buah kelapa yang dikeringkan.
“Itu karena di Masalembu ini sebagian besar lahannya ditanami pohon kelapa,”kata Khuzaimah, warga kampung pesisir, Desa Masalima, kecamatan Masalembu, pada News Room, Selasa (07/04).
Menurut ibu dua anak ini, usaha kopra di Masalembu dimulai sekitar 10 tahun silam. Saat itu, dirinya bersama suaminya merupakan salah satu yang merintis usaha ini. Saat pertama merintis usaha ini sangat menjanjikan. Laba yang diraup bisa sampai puluhan juta rupian sekali kirim.
“Kalau saya langsung kirim ke pembeli di Surabaya via kapal laut,”kata Khuzaimah.
Untuk membuat kopra ada beberapa cara. Menurut Khuzaimah, cara yang paling baik ialah dengan dikeringkan melalui sinar matahari. Jadi, buah kelapa yang sudah tua dijemur di bawah teriknya matahari selama beberapa hari.
“Cara ini juga mengurangi polusi udara. Juga agak hemat. Tapi biasanya kalau musim hujan, dikeringkan dengan cara dipanaskan di atas tungku api,”tambahnya.
Selanjutnya kopra yang sudah kering dikirim ke pembeli dalam jumlah ton-an. Kopra digunakan sebagai bahan baku minyak goreng dan juga kosmetik.
Namun, menurut Khuzaimah belakangan ini bisnis kopra di Masalembu mulai banyak saingan. Saat ini sudah mulai banyak warga di sana yang menekuni usaha kopra.
“Ya, harus pandai-pandai bersaing. Tapi usaha ini lebih bagus, ketimbang kita mengirim buah kelapa yang masih belum diolah. Keuntungannya lebih besar kopra. Namun, ya resikonya juga besar. Karena persaingan bisnis itu tadi,”kata Khuzaimah menutup pembicaraan. ( Farhan, Esha )