Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 04-06-2015
  • 1421 Kali

Mengintip Aktivitas Majelis Dzikir Thariqah Alawiyah Kepanjin

News Room, Jumat ( 05/06 ) Muhammad bin Syaikh bin Alwi Bilfaqih bagi sebagian masyarakat di Sumenep, khususnya di Kelurahan Kepanjin Kecamatan Kota Sumenep, merupakan sosok pribadi yang kharismatik. Dirinya juga dikenal sebagai seorang tokoh agama yang alim, sederhana, santun dan sekaligus juga murah senyum.

Ditambah lagi latar belakangnya sebagai cucu Sayyid Alwi Bilfaqih, salah seorang tokoh ulama besar Sumenep di masanya. Habib Muhammad atau Yek Muhammad lahir di Sumenep, tahun 1955 Masehi, tanpa ada keterangan tertulis mengenai tanggal dan bulannya. “Yang saya tahu, saya lahir di tahun 1955 saja,”akunya, pada News Room.

Ayah, Habib Muhammad, Habib Syaikh merupakan Mursyid Thariqah Alawiyah. Habib Syaikh ini menggantikan kedudukan ayahnya, Sayyid Alwi Bilfaqih, Mursyid sebelumnya.

Mengenai Thariqah Alawiyah ini, Habib Muhammad hanya menjelaskan secara singkat saja. “Thariqah Alawiyah ini merupakan thariqah yang awal. Sejak jaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW. Jadi, dapat dikatakan, thariqah ini sudah berjalan sebelum thariqah-thariqah muktabarah lainnya ada,”tegasnya.

Disamping guru thariqah, menurut Habib Muhammad, Habib Alwi dan Habib Syaikh juga membina majelis dzikir dan taklim bagi masyarakat umum. Tak hanya berpusat di Kepanjin, ayah dan kakeknya tersebut juga dikenal aktif berdakwah hingga beberapa penjuru di Sumenep. Singkatnya, keduanya merupakan pejuang-pejuang da’wah tanpa pernah merasa lelah.

Saat ini majelis dzikir dan taklim yang diberi nama Majlis Dzikir Wattaklim Alawiyah al-Faqihiyah Liahlis Sunnah Wal Jamaah tersebut dilanjutkan oleh Habib Muhammad. Beliau mengaku, di awal-awal meneruskan misi dakwah leluhurnya tersebut, hampir tiap hari bepergian untuk urusan dakwah.

“Jadi, tidak hanya terfokus pada jamaah dzikir yang ada di Sumenep bagian kota saja. Karena yang di sini, hanya setiap minggu, yakni setiap malam Jum’at,”kata salah satu anggota Majelis Mustasyar (Penasehat) PC-NU Sumenep ini.

Namun saat ini, rutinitas dakwah keluar kota sudah dikurangi oleh ayah dari tujuh anak ini. Alasan utamanya ialah faktor kesehatan. “Jadi, saat ini banyak melakukan rutinitas di sini. Namun, ya sewaktu-waktu tetap berupaya datang, jika ada undangan dari masyarakat,”tambahnya.

Saat ini, menurut Habib Muhammad, jumlah anggota majelis dzikir yang dipimpinnya sudah mencapai lebih dari angka lima ratusan. Terkadang tempat kediamannya yang dijadikan sebagai tempat menampung jamaah sudah tidak lagi muat. “Terkadang saya sendiri yang harus mengalah, sampai harus keluar,”ceritanya, sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )