Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 06-07-2015
  • 580 Kali

Menghidupkan Kembali Tradisi Tong-Tong Di Bulan Ramadlan

News Room, Selasa ( 07/07 ) Bulan Ramadlan memiliki banyak kekhasan. Hal ini bukan saja karena Ramadlan adalah bulan yang penuh dengan segala berkah, sekaligus bulan yang paling dimuliakan di antara sebelas bulan lainnya.

Kekhasannya juga beragam. Tak hanya hal-hal yang identik dengan bertambahnya frekuensi ibadah dan jumlah kaum muslimin yang memadati masjid, mushalla, langgar, maupun surau di sudut-sudut kampung. Ataupun juga dikarenakan menu santapan buka yang tidak seperti hari-hari biasanya, penuh dengan aneka.

Dulu, sekitar lebih dari 20 tahunan yang silam, Ramadlan juga identik dengan yang namanya tong-tong. Di kalangan anak-anak, khususnya di kawasan Sumenep, tong-tong merupakan alat permainan yang menarik, apalagi saat dimainkan bersama-sama sambil mengitari luasnya kampung.

"Saya masih ingat dulu waktu masih usia anak SD, sering memainkan alat musik tong-tong ini bersama-teman. Biasanya selepas shalat tarawih. Sungguh menyenangkan dan penuh kekeluargaan,"kata RB. Muh. Muhlis, salah satu warga Kampung Arab Desa Pangarangan Sumenep, pada News Room.

Menurut Muhlis, kegiatan itu juga biasanya diulang saat hampir sepertiga malam, atau saat mendekati waktu sahur. "Tujuannya juga untuk membangunkan warga, agar tidak kehilangan waktu sahurnya,"kenangnya.

Uswatun Hasanah, warga lainnya juga mengatakan hal serupa. Namun, ibu satu anak yang biasa dipanggil Uus ini merasa, jika saat ini ada sesuatu yang hilang dalam Ramadlan akhir-akhir ini.

"Tradisi keakraban dan kekeluargaan jaman saya kanak-kanak dulu, saat ini sudah tidak tampak lagi. Sekarang anak-anak suka menghabiskan waktu dengan gadget. Padahal media semacam itu bisa berakibat anak bersikap individual. Lebih dari itu, tradisi setempat yang lebih mendidik seperti tong-tong dan lainnya itu bisa saja nantinya tidak akan dikenal lagi di masa yang akan datang,"tambahnya.

Oleh karena itu, Uus berharap ada pihak-pihak yang masih peduli dengan tradisi-tradisi lama yang sifatnya lebih mendidik, membuka ruang pergaulan yang lebih luas, dan lebih terkesan penuh kekeluargaan serta keakraban. "Jadi belajar itu kadang dari pengalaman dan pergaulan, tidak melulu dari buku, tivi, ataupun internet,"tutupnya. ( Farhan, Esha )