Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 17-12-2015
  • 805 Kali

Mengenal Tradisi Ban-Giban Di Desa Kasengan Sumenep

News Room, Jumat ( 18/12 ) Tradisi pernikahan di Sumenep penuh dengan pernak-pernik. Seperti tradisi yang terjadi di kawasan Desa Kasengan Kecamatan Manding, ada tradisi yang disebut dengan ban-giban. Sesuai namanya, tradisi ini berbentuk barang bawaan mempelai laki-laki ketika menikahi seorang gadis atau perempuan.

"Umumnya mulai dari dulu yang dibawa ialah seluruh isi rumah. Jadi kalau pihak mempelai perempuan itu umumnya menyediakan rumah untuk ditempati kedua mempelai, maka pihak laki-laki yang mengisinya dengan perlengkapan rumah, seperti kursi, tempat tidur, lemari, hingga perlengkapan dapur," kata Lamri, salah satu warga Desa Kasengan, pada Media Center.

Uniknya, ban-giban itu tidak selamanya mengisi rumah, saat biduk rumah tangga goyah. Bahkan setelah berpisah atau cerai, seluruh ban-giban itu diambil kembali oleh pihak laki-laki bagaikan dikuras bersih. "Bahkan satu sendok makan pun tidak ada yang ketinggalan," kata Lamri sambil tertawa.

Namun, pengurasan sampai bersih itu umumnya mengecualikan pasutri yang bercerai namun meninggalkan keturunan. Biasanya, si pria dinasehati para sepuh untuk tidak mengambil kembali ban-giban karena alasan anak yang ikut ibunya. "Ya, biasanya tak sampai hati karena ada anak. Ban-giban tersebut tetap digunakan anaknya sendiri kan?," katanya.

Hingga saat ini tradisi ban-giban masih menjadi salah satu syarat utama menikahi perempuan di Desa Kasengan dan sekitarnya. Bahkan menurut Lamri, ada kebiasaan tambahan yang mulai berjalan. Ban-giban juga seakan diwajibkan membawa satu unit sepeda motor baru. "Entah siapa yang memulainya. Ya, memang tidak harus. Tapi karena sudah mulai tren, pasti kalau tidak (bawa sepeda motor; red) akan jadi bahan gunjingan, biasanya begitu," tutupnya, sambil tersenyum. ( Farhan, Fer )