Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 26-04-2015
  • 2745 Kali

Mengenal Sosok Kiyai Bakri, Salah Seorang Ulama Ahli Tauhid

News Room, Senin ( 27/04 ) Bagi mereka yang mengenal nama Kiyai Ahmad Bakri, kebanyakan mengatakan bahwa beliau ini tidak lebih dari sekadar guru ngaji atau kiyai langgharan (langgar). Bahkan istilah kiyai Langghar ini juga diucapkan oleh satu-satunya putra Kiyai Bakri yang saat ini masih hidup, yaitu Kiyai Haji Ahmad Shadiq Bakri.

“Memang kae (ayah; red) ini tidak pernah mau mendirikan pesantren. Padahal, dulu yang mengaji atau yang nyantri itu cukup banyak. Para santri istilahnya nyolok (tidak menetap). Jadi memang dari dulu para santri yang mengaji kepada kae ini tidak ada yang mukim,”kata Kiyai Shadiq pada News Room, di kediamannya, di Desa Pandian Kecamatan Kota Sumenep.

Menurut Kiyai Shadiq, Kiyai Bakri memang merupakan sosok yang istilah populernya saat ini disebut sosok yang low profile. Bahkan kiyai yang dikenal sebagai ‘ulama ahli ilmu Ushul (Tauhid) ini dikenal sebagai sosok yang tawadlu’ dan zuhud.

“Ketika misalnya hadir dalam suatu undangan, beliau tidak pernah berkumpul dengan tokoh-tokoh kiyai atau priyayi yang juga hadir saat itu. Beliau malah membaur dengan anak-anak kecil, atau di tempat berkumpulnya kalangan biasa. Saat makan hidangan pun beliau menampakkan diri sebagai orang yang rakus. Padahal dalam kehidupan sehari-harinya beliau jarang makan, dan makan cuma sedikit, sehingga badannya kurus kering. Ketika ditanya kenapa beliau terlihat rakus saat menyantap makanan di hadapan semua orang, beliau hanya menjawab biar saya dicela oleh manusia,”tambahnya.

Proses awal Kiyai Bakri dimulai dari pertemuannya dengan salah satu ulama besar Sumenep di masanya, yang bernama Raden Ario Atmowijoyo (Abdul Ghani bin Ashim bin Sultan Abdurrahman) yang biasa dikenal dengan sebutan Tearjha Atmo. “Kepada beliau, ayah saya mengaji ilmu ushul setelah sebelumnya melewati berbagai ujian,”cerita Kiyai Shadiq.

Selepas itu, disamping kemudian mengajar ilmu tauhid pada para santrinya, kiyai Bakri juga menulis kitab dasar mengenai ilmu ini, yang meliputi syarah Asmaul Husna dan aqaid yang lima puluh. Di sampul kitab tertulis Kitab al-Musamma bimawaa izhil Ihsaani fii Iktiqadi manittaba adz-Dzikra wa Khasyiarrahman.

Kitab tersebut dibagi menjadi dua bab, yang pertama Kitab risalah yang beliau namai al-Qaulul Unsaa fii Syarhi Asmaa~ilLaahil Husnaa, dan yang kedua kitab risalah fii ilmittauhiid yang beliau namai Mafaakhirul Quluubi was Suruur. Mengenai ilmu Ushul ini, seperti yang dikatakan oleh kiyai Bakri kepada santrinya, bahwa ia hanya mengajarkan ilmu dasarnya saja.

“Seandainya semua yang diajarkan guru saya (Tearja Atmo) itu saya keluarkan semua, maka saya tidak akan dipanggil orang dengan sebutan Haji Bakri, melainkan Haji Kafir,”katanya.

Menurut Kiyai Shadiq, Kiyai Bakri wafat dalam usia yang sangat sepuh. Namun kiyai Shadiq sendiri tidak tahu secara jelas bilangan usia ayahnya. Dalam keterangan di makam Kiyai Bakri di pemakaman di Jalan Pahlawan Desa Pandian, ditulis bahwa beliau wafat pada tanggal 17-2-53/54 (tanggal 17 Februari 1953/1954). ( Farhan, Esha )