Media Center, Jum'at ( 29/12 ) Nama Kiai Imam di Desa Pandian, Kabupaten Sumenep, hampir tak disebut di catatan sejarah kuna maupun babad di bumi Sumekar ini. Padahal berdasar riwayat lisan turun-temurun di Sumenep, beliau ialah guru pertama Kiai Abdurrahman alias Kiai Raba di Pamekasan. Kiai Raba yang putra Sendir dan melegenda kisah kehidupannya di kedua poros Tengah-Timur pulau Madura. Pasalnya, Kiai Raba ini dikenal sebagai paman dan ayah angkat Bindara Bungso, ayah Bindara Saut, penguasa legendaris Sumenep sekaligus pembuka dinasti terakhir di sini.
“Saat kecil Kiai Raba memang dititipkan pada Kiai Imam oleh ayahnya, Kiai Abdullah Sendir,”kata Deny Fahrurrazi, salah satu pemerhati sejarah di Kabupaten Sumenep pada Media Center.
Menurut kisah tetua atau para sesepuh di Sumenep, Kiai Imam dikenal sebagai sosok yang waskita dan linuih. Beliau dikenal sebagai salah satu waliyullah besar di masanya. Konon, Kiai Raba kecil sudah diramalkan beliau sebagai calon waliyullah agung di Madura.
“Saat Kiai Raba mondok di sana, kebiasaannya mengadu anjing dan celeng. Kiai Imam lantas menegur dengan berkata, wahai Abdurrahman, seandainya bumi ini perahu, engkau adalah tiangnya,”kata Deny.
Ucapan Kiai Imam di kemudian hari memang menjadi kenyataan. Kiai Raba menjadi tokoh ulama besar dan disegani oleh bumi Gerbang Salam. Sang Raja di sana pun ta’zhim dan berguru ruhani.
Satu-satunya tulisan masa lampau yang mengutip nama Kiai Imam ialah karya R. Zainalfattah, mantan Bupati Pamekasan yang juga sekaligus ahli sejarah dan kebudayaan Madura. Dalam bukunya yang berkisah tentang sejarah pusaka di Madura itu, Kiai Imam disebut sebagai salah satu empu atau pandai keris di Sumenep. Pusaka karya Kiai Imam juga dikenal sebagai jenengan Pandian.
“Masa pembuatannya setelah masa Empu Barama. Jadi bedanya, kalau sebelum Kiai Imam, pusaka Pandian dikenal dengan Barama,”jelas Deny yang juga sekaligus pemerhati pusaka di Kabupaten Sumenep.
Pasarean Wali sepuh di Sumenep itu terletak di pemakaman Pacangagan di Jalan Pahlawan Desa Pandian. Dalam sebuah kompleks tanpa atap. Posisinya di sebelah timur makam Gung Macan atau Kiai Morkali, yang juga sama-sama tokoh ulama Sumenep sekaligus ahli pandai keris dari Karangduak.
( M. Farhan M, Esha )