News Room, Rabu ( 19/08 ) Di Kota Sumenep, Jalan Halim Perdanakusuma atau yang biasa disingkat HP Kusuma merupakan salah satu jalan terbesar. Dimulai dari pusat atau jantung kota, jalan ini membentang ke arah utara hingga Tugu Ayam Bekisar di perempatan jalan Desa Pamolokan.
Abdul Halim Perdanakusuma, nama lengkapnya, dikenal sebagai salah seorang Pahlawan RI. Namanya bahkan diabadikan pada salah satu Bandara terbesar di Indonesia yang sekaligus menjadi pangkalan TNI Angkatan Udara RI.
Halim merupakan pria kelahiran Kota Sampang, 18 November 1922 silam. Namun, tak banyak yang tahu, khususnya warga Sumenep sendiri, bahwa Halim merupakan putera asli Sumenep. Bahkan di Sumenep-lah tempat dirinya dibesarkan, sekaligus di Kabupaten ini ke dua orang tuanya dimakamkan.
“Rumah Halim Perdanakusuma terletak di Kelurahan Kapanjin (dulu Desa Kapanjin), tepat di jalan yang saat ini dinamakan dengan namanya,” kata Deny F. Suryoningprang, salah satu kerabat keluarga Halim di Sumenep, pada News Room.
Bekas rumah Halim saat ini menjadi milik Dinas Sosial Kabupaten Sumenep. Bangunannya masih utuh dengan gaya khas kuna, dan menghadap ke arah selatan. Rumah tersebut dihibahkan oleh keluarga Halim pada Dinas Sosial. Kini bangunan dan tanah sekitar rumah dijadikan sebagai panti asuhan dan gedung bangunan TK Tat Twam Asi.
Ayah Halim dulunya merupakan salah satu patih di Sumenep dan juga Sampang. Ayahnya bernama HR Abdul Gani Wongsotaruno atau Wongsotruno. Halim merupakan anak satu-satunya. “Setelah kedua orang tuanya wafat, dan dimakamkan di salah satu area di sekitar Asta Tinggi. Tempat kediamannya dihibahkan pada negara,”kata Deny.
Setelah dewasa, Halim memilih masuk jalur militer udara atau Angkatan Udara. Dirinya bahkan merupakan salah satu perintis AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) setelah Indonesia mengukuhkan kedaulatannya.
Sebelumnya, Halim bahkan tercatat sebagai anggota Royal Canadian Air Force dan Royal Air Force dengan pangkat Wing Commander pada waktu Perang Dunia II. “Ia tercatat melakukan tugas penerbangan (flight mission) sebanyak 44 kali waktu itu,”kata Deny, yang mengaku mendapat info tersebut dari kerabat Halim lainnya.
Pada tahun 1947, saat terjadi clash dengan Belanda yang tidak puas menjajah atau ingin kembali mengeruk Indonesia, Halim bertugas membeli dan mengangkut perlengkapan senjata dengan pesawat terbang dari Thailand.
“Menurut keterangan keluarga Halim dan sesuai data sejarah, beliau bertugas bersama Marsekal Muda Iswahyudi dengan menggunakan pesawat Avro Anson VH-BBY (RI-003) yang dibeli dari seorang berkebangsaan Australia bernama Keegan,” ungkap Deny.
Sayang, sepulangnya dari Bangkok, Thailand, tepat pada tanggal 14 Desember 1947, pesawat yang ditumpangi Halim dan Iswahyudi jatuh di Pantai Tanjung Hantu Perak, Malaysia.
Dugaan, pesawat jatuh karena cuaca buruk. Dan dugaan lain karena ditembak (sabotase). Jasad Halim berhasil ditemukan. Namun tidak dengan Iswahyudi. Selama beberapa tahun jasad Halim dikebumikan di Perak Malaysia sebelum akhirnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta.
Halim meninggalkan seorang isteri yang tengah mengandung waktu itu. Kelak, anaknya yang bernama Ian Santoso mengikuti jejaknya meniti karir sebagai perwira di Angkatan Udara RI. ( Farhan, Esha )