News Room, Selasa ( 14/04 ) Keraton Sumenep dikenal menyimpan berbagai jenis senjata keris pusaka yang berkualitas tinggi. Baik dari segi pamor, besi, bentuk, hingga yang sifatnya mistis, yakni tuahnya. Tidak sedikit kolektor pusaka dari luar Sumenep yang mencoba berburu pusaka peninggalan Raja-raja Sumenep. Terutama yang paling terkenal ialah pusaka peninggalan Raja-raja dari Dinasti Bindara Saut, khususnya peninggalan Panembahan Sumolo dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.
“Kalau sebutan yang umum di Sumenep, pusaka peninggalan Raja-raja itu namanya Jenengan Dhalem,”kata salah seorang kolektor pusaka di Sumenep, Fahrurrazi Suryoningprang, pada News Room, Selasa (14/04).
Mengenai keris pusaka Jenengan Dhalem tersebut menurut Fahrurrazi, banyak jumlahnya. Namun, memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dengan pusaka yang dibuat Empu lain di Sumenep.
“Memang, untuk yang Jenengan Dhalem Empu-nya khusus. Seperti di masa Panembahan Sumolo itu Empu-nya Kiyai Brumbung. Sedangkan di masa Sultan Abdurrahman itu Empu-nya bernama Kiyai Citranala, sehingga bisa dibedakan dengan pusaka yang dibuat oleh Empu lain,”tambah warga Jalan Bekisar, Desa Pamolokan ini.
Dari jumlah pusaka Jenengan Dhalem yang diperkirakan ratusan itu, menurut Fahrurrazi, sebagian kecil memiliki julukan atau berjuluk. Nama julukan itu biasanya disesuaikan dengan maksud pembuat pusaka atau didasarkan pada kejadian luar biasa yang disebabkan oleh pusaka tersebut.
“Seperti keris pusaka yang berjuluk ‘Se Dhamar’ misalnya, itu ceritanya dulu memancarkan cahaya terang di malam hari,”imbuhnya.
Ada sekitar puluhan pusaka dhalem yang berjuluk, yang disebutkan oleh Fahrurrazi di antaranya, Nogo Besuki, Tondung Perrang, Se Dhamar, Se Serrang Lebat, dan Se Lajing. Disamping itu juga ada yang disebut Se Saang, Se Cena Mabuk, Se Laden, Se Jarum Kerras, Se Parot, Se Sopenna, Se Sonar, Se Tambak, Se Lendhu, Se Komala, Se Megantara, Se Rendheng, Se Serang Dayu, Se Malias, Se Tamoni, Se Daddhali, Se Banjir, Se Pandita, Se Pangkat, Se Jarum Paet, Se Setan Dunnya, dan Se Salamet atau Se Wahyuningsih.
“Kalau di kalangan Sumenep, pusaka yang berjuluk itu jelas memiliki nilai sejarah, sekaligus nilai komersil yang lebih tinggi,”pungkas Fahrurrazi. ( Farhan, Esha )