Media Center, Jumat ( 18/08 ) Asta Tinggi sejak masa Sultan Abdurrahman (1811-1854 M) dipercayakan pada abdi dalem yang dikenal dengan istilah kaji. Dengan kata lain, kaji merupakan sebutan bagi para penjaga asta sejak masa Sultan Sumenep. Kaji bukan sebutan untuk satu orang, namun satu kelompok. Ada 8 kelompok berdasar pembagiannya, sehingga otomatis juga ada 8 kaji di kawasan Asta Tinggi. Nah, dari 8 kaji itu ada 1 pimpinan utama yang disebut Loloran atau disingkat Lora.
“Lora ini memiliki wakil yang disebut Kabajan,”kata Kepala Asta Tinggi saat ini, RB. Ruska, pada Media Center.
Sebenarnya, menurut penuturan Ruska, dalam literatur yang lebih kuna, penjaga Asta Tinggi sudah ada sejak masa pemerintahan Pangeran Rama (1678-1709 M) dari Dinasti Yudanegara. Namun, sistemnya lebih tertata sejak masa Sultan Abdurrahman dari Dinasti Saut.
Penunjukan para kaji dan sekaligus lora itu dilakukan langsung oleh Sultan Abdurrahman. Mereka dipilih dari para prajurit yang setia dan pilih tanding. “Dalam hal teknis sekalipun, itu langsung berasal dari titah raja,”jelas Ruska.
Bahkan menurut Ruska, pada jaman para kaji dan lora itu hanya tunduk pada perintah raja, bukan pada yang lain. Apakah itu kerabat atau anak raja sekalipun, sehingga rahasia-rahasia yang terjadi di masa kerajaan tersimpan rapat.
“Dan sebagai imbalan kesetiaannya, mereka diberi tanah oleh sang raja dengan sistem hak pakai, yang diwariskan turun-temurun,”tambahnya.
Seperti yang diketahui, ada 8 kaji di Kompleks Pemakaman Raja-raja Sumenep atau Asta Tinggi. Yaitu Kaji Senga’, Kaji Buddhi, Kaji Nangger, Kaji Makam, Kaji Jhajabangsa, Kaji Jhaja Addur, Kaji Sekkar, dan Kaji Langghar.
Ke 8 nama tersebut jika dirangkai, maka bunyi dan maknanya dalam bahasa Madura ialah: “Senga’ sopaja’a ekataoe, jha’ e budina Asta Tengghi areya bada bungkana nanggher, e seddhi’anna nanggher bada kobhuranna oreng se abillai kajhajaan bhangsa tor abhillai agama. Iya sopaja esekkare, mon ta’ sempat, keba keyae soro duwa’aghi”. ( M Farhan M, Esha )