Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-08-2015
  • 4303 Kali

Mengenal Budaya Sundrang Di Kepulauan Masalembu

News Room, Jumat ( 28/08 ) Kabupaten Sumenep memang bisa dikatakan beda dengan 3 saudaranya (Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan) yang sama-sama merupakan anak kandung Madura. Mungkin tak salah, jika ada yang mengatakan bahwa kabupaten paling timur di Nusa Madura ini merupakan miniatur Nusantara.
Kompleks. Mulai dari ragam karakter penghuninya hingga budayanya. Semua ada. Salah satu budaya adopsi yang mengakar  di Kabupaten Sumenep, terjadi di kawasan kepulauan Masalembu. Orang di sana biasa menyebut budaya tersebut dengan kata Sundrang.

"Itu istilah orang-orang Bugis. Sundrang merupakan biaya sumbangan pernikahan yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki. Besarannya (nominal; red) tergantung orang tua calon mempelai perempuan. Bisa Rp. 5 juta, hingga Rp. 20 juta lebih,"kata Arbaena (60), seorang warga Desa Sukajeruk Kecamatan Masalembu, pada News Room.

Memang, secara historis, kepulauan Masalembu "dibuka" oleh orang-orang Bugis dari Pulau Sulawesi. Padahal, secara geografis, pulau ini masih lebih dekat dengan pulau Kalimantan yang memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan laut, dibanding pulau Sulawesi yang bisa menghabiskan waktu 24 hingga 48 jam perjalanan laut. Tapi, dalam hal masalah Sundrang, baik suku Madura atau suku lainnya yang turun-temurun mukim di kepulauan ini, juga turut menganutnya.

"Bisa dikatakan (sundrang) sudah menjadi budaya Sumenep swasta. Jadi tak hanya berlaku bagi suku Bugis di Masalembu. Orang-orang asli Madura di sini juga memakai tradisi ini saat menikahkan putri-putrinya,"kata seorang warga Desa Masalima, Darwis.

Namun menurut Darwis, nominal Sundrang yang dipatok orang tua mempelai wanita tidak bersifat permanen. Nominal itu masih bisa dimusyawarahkan sendainya pihak laki-laki tak mampu.

"Jadi, yang saya tahu tidak terlalu kaku,"tambahnya. Ironisnya, terkadang Sundrang dijadikan tameng untuk menolak lamaran secara halus. Caranya dengan mematok "harga" tinggi dan tak bisa ditawar-tawar lagi, sehingga pria pelamar terpaksa "balik kanan" alias mundur.

Tak hanya itu, angka rupiah Sundrang juga didasarkan pada strata sosial keluarga calon mempelai perempuan. Artinya, jika keluarga calon mempelai perempuan berasal dari nasab terpandang, kedudukan kelas menengah ke atas, apalagi berparas menarik dan sudah mapan, maka angka nominalnya melambung.

"Seperti keluarga keturunan bangsawan misalnya. Yang kalau di Sumenep disebut Gus, Jeng, atau Radhin, Sundrangnya mahal. Apalagi kalau masih terhitung keluarga pejabat, Camat misalnya,"terang Syamsul seorang warga Masalembu lainnya.

Fenomena ini memang menarik. Di satu sisi, sang perempuan diibaratkan laiknya batu mulia. Berharga, dan tentu saja mahal. Namun di sisi lain, tak mungkin kita menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa tradisi ini ibarat transaksi jual beli. Karena prakteknya bisa dikatakan sama. Ironisnya, yang menjadi komoditasnya adalah anak. Bahkan tak kalah ironis, saat ada kenyataan banyaknya perawan tua yang tak laku-laku, karena sang ayah mematok harga Sundrang-nya melangit.

Sebab, para pria pasti akan berpikir berkali-kali untuk melamar sang gadis idaman, mengingat perempuan tak hanya ada di Masalembu. Tapi di balik itu, kita juga harus mengapresiasi Sundrang sebagai salah satu kekayaan budaya kita, kendati budaya adopsi. Kita mungkin juga harus berprasangka baik, tak ada sebenarnya orang tua yang tega menjual anak.

Mungkin biaya Sundrang itu akan mereka kembalikan pada ke dua mempelai untuk dijadikan sebagai tambahan bekal hidup mengarungi samudera rumah tangga. Lagi pula, dengan keberadaan Sundrang, bisa saja para pria hidung belang membuat pertimbangan hingga ribuan kali untuk sekadar mencari selingkuhan ke kepulauan Masalembu. ( Farhan, Esha )