Media Center, Senin ( 10/04 ) Wilayah Kecamatan Rubaru menyimpan banyak jejak sejarah. Tak hanya yang berkaitan dengan pusat pemerintahan Sumenep jaman doeloe. Di sekitar Kecamatan ini juga banyak terdapat jejak tokoh-tokoh agama di jaman lampau. Salah satunya di Kampung Balang, di Desa Pakondang, Kecamatan Rubaru.
Di kampung yang ditempuh dengan naik turun jalan perbukitan itu menyimpan jejak sejarah kuna. Asta Bujuk atau Agung Balang. Kondisi Asta Balang ini hampir lebih tujuh puluh lima persen masih original. Hampir tak ada sentuhan tangan manusia yang berakibat hilangnya nilai sejarah. Namun sekitar dua puluh persen sudah tak bisa disebut situs. Sebab sudah diperbarui di masa kini.
“Ya, memang dari dulu pasarean Bujuk Balang, khususnya yang sepuh tidak direnovasi, namun dibiarkan,”kata Wardiyanto, salah seorang warga Desa Pakondang yang menemani Media Center, Minggu (10/04).
Pasarean yang sepuh itu milik Kiai Abdul Karim, sosok yang pertama kali mendiami Bumi Balang. Kiai Abdul Karim berasal dari Madura Barat. Dalam catatan silsilah Bani Balang yang diperlihatkan oleh H. Thalabuddin, penerus estafet yang merawat Asta Balang, Kiai Abdul Karim disebut putra Kiai Syits bin Sunan Cendana, Kwanyar, Bangkalan.
Kiai Abdul Karim diceritakan membabat wilayah Balang dan mendirikan pusat belajar agama. Sementara sebutan Balang menurut sesepuh di sana ialah kependekan dari Hulubalang.
“Kabarnya Kiai Abdul Karim ini pernah menjadi Hulubalang Mataram. Bahkan beliau ini menikah dengan putri Keraton Mataram,”kata Wardi, sapaan Wardiyanto.
Dalam catatan silsilah Balang itu disebut beberapa pengasuh pesantren besar di Sumenep, Pamekasan dan beberapa wilayah di Tapal kuda merupakan keturunan Kiai Abdul Karim. Menurut keterangan Wardi, haul Kiai Abdul Karim diperingati setiap tahun. “Bisa dikata haul beliau yang terbesar, karena dihadiri beberapa Kabupaten di Jawa Timur,”tutup Wardi. ( M Farhan, Esha )