News Room, Senin ( 28/09 ) Bagi generasi saat ini, nama Toros mungkin hanya dikenal sebatas nama Kampung di Desa Kebunagung Kecamatan Kota Sumenep. Itu pun juga kemungkinan sebatas generasi di Desa tersebut. Tak banyak yang tahu, jika di salah satu sudut Desa Kebunagung tersebut dulu, di era keraton plus kolonial pernah berdiri sebuah pusat jujukan para penimba ilmu agama.
Ya, Toros dulu dengan pesantren atau langgarnya merupakan salah satu pesantren kuna yang pernah eksis di akhir abad ke 19 hingga hampir pertengahan abad ke 20, di kawasan Kota Sumenep.
Ketika bicara Langgar Toros, tentu tak bisa lepas dari peletak batu pertamanya sekaligus penerusnya. Pendiri langgar atau pesantren ini adalah Kiai Haji Mudhfar Ismail, yang kemudian dilanjutkan oleh putranya Kiai Haji Munfar Fahruddin. Kiai Mudhfar ini yang kemudian dikenal sebagai Kiai Toros pertama, dan Kiai Munfar adalah Kiai Toros ke dua.
Menurut salah satu keturunan Kiai Toros, Mohammad Faqih Mursyid, Kiai Mudhfar Isma il bukan asli Kampung Toros. Kiai Mudhfar berasal dari Ambunten (dulu kedemangan, kemudian Kawedanan, dan selanjutnya Kecamatan. “Kiai Mudhfar berasal dari Kampung Kodas (Qadas) Ambunten,”kata Faqih, pada News Room.
Dulu, Kodas memang dikenal sebagai salah satu pusat belajar ilmu agama di Ambunten. Yang pertama kali morok (mengajar) ialah Bindara Fattah atau Kiai Fatah dari Waru Pamekasan. Kiai Fatah ini bersaudara dengan Kiai Bayan atau Kiai Waru II, sama-sama putra Kiai Agung Waru atau Kiai Waru I.
Secara genealogi, Kiai Agung Waru adalah keturunan Pangeran Katandur (Sayyid Ahmad Baidlawi). Kiai Agung Waru juga tercatat sebagai keponakan Kiai Abdul Qidam, Arsoji, Larangan Pamekasan, ayah Kiai Abdullah Batuampar yang menurunkan Bindara Saut, Raja Sumenep. Ayah Kiai Agung Waru, yaitu Kiai Pandita, Teja Pamekasan adalah kakak dari Kiai Abdul Qidam.
Sebagaimana kebiasaan keluarga ulama kuna dulu, ketika sudah dewasa dan memiliki bekal ilmu agama yang cukup luas, seorang putra kiai biasanya dilepas atau diperintahkan untuk hijrah dari kampung atau desa tempat tinggalnya. Tentunya hal itu tidak bisa lepas dari proses istikharah dan istisyaroh.
Begitu pula dengan Kiai Mudhfar, dari kampung Kodas Ambunten, beliau hijrah menempati sebuah lokasi di bagian Timur laut desa Kebunagung, yaitu yang hingga sekarang dikenal sebagai kampung Toros. Konon lokasi tersebut merupakan hibbah dari Raja Sumenep. Kalau diperkirakan Kiai Mudhfar hidup di jaman pemerintahan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.
“Namun, kalau dari sejarahnya, sebenarnya kampung Toros itu aslinya bukan di lokasi yang didiami Kiai Mudhfar di Kebunagung, tapi di Desa Babbalan,”kata Faqih.
Ceritanya, menurut Faqih, dulu Kiai Mudhfar dan isterinya mengadopsi anak dari Kampung Toros Babbalan. Dalam riwayatnya, Kiai Mudhfar memang lama tidak dikaruniai keturunan.
Lambat laun, kedatangan Kiai Mudhfar di Kebunagung menarik beberapa penduduk di Kampung Toros Desa Babbalan untuk menitipkan putra-putrinya belajar mengaji Al-Quran dan ilmu agama lainnya, sehingga lambat laun, langgar yang didirikan Kiai Mudhfar dikenal dengan sebutan Langgarra Oreng Toros (Langgarnya orang-orang Toros yang belajar pada Kiai Mudhfar).
“Sebutan itu lambat laun berubah, dan menjadi Langgar Toros,”tambah Faqih. Tak hanya itu, area sekitar Langgar Toros sejak jaman Kiai Mudhfar Ismail dikenal orang dengan sebutan Kampung Toros. Dan kiai Mudhfar sendiri juga dikenal dengan gelar Kiai Toros.
“Jadi, sekarang Kampung Toros itu ada 2. Satu di Desa Babbalan dan yang satunya lagi ya di Desa Kebunagung ini,”kata Faqih.
Setelah lama mengadopsi anak angkat bernama Fathimah, Kiai Mudhfar lalu dikaruniai putra bernama Kiai Munfar Fahruddin, atau yang kemudian dikenal sebagai Kiai Toros II. ( Farhan, Esha )