Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 18-08-2020
  • 4760 Kali

Menelusuri Jejak Kisah Rato Juwarsare Di Sumenep

Media Center, Selasa ( 18/08 ) Bagi sebagian masyarakat Sumenep, nama Rato Juwarsare bisa dikata asing. Namun tidak bagi masyarakat di sekitar makam tokoh, yang dalam beberapa tulisan tentang Sumenep Masa Laloe itu, ditulis dengan nama Panembahan Joharsari.

Tak hanya itu, dalam sejumlah literatur, Panembahan Joharsari juga ditulis lengkap dengan tahun atau masa pemerintahannya. Ya, Joharsari memang disebut sebagai salah satu penguasa di Madura Timur. Beliau ditulis memerintah sejak 1319-1331 Masehi.

Menurut pemerhati sejarah di Sumenep, Nurul Hidayat, sosok Panembahan Joharsari sebagai penguasa Sumenep memerlukan kajian ulang. Ada beberapa poin yang perlu digarisbawahi. Seperti sumber otentik penempatan tahun pemerintahan tersebut.

“Dan yang lebih penting tentang gelar panembahan yang disematkan pada beliau,” kata Nurul, Selasa (18/08/2020).

Senada dengan Nurul, pemerhati sejarah lainnya di Sumenep, Hairil Anwar, menyebut bahwa di abad 14, gelar panembahan masih belum populer.

“Panembahan identik dengan gelar penguasa Islam. Sementara di abad itu, Islam belum bisa dikatakan menjadi agama resmi atau agama penguasa di Madura. Penggunaan simbol-simbol keislaman bisa jadi masih resistan, mengingat kala itu Majapahit masih kuat pengaruhnya pada wilayah-wilayah yang berada di bawah naungannya,” jelas Hairil.

Di samping juga masalah penggunaan nama Joharsari yang terkesan tidak lazim di abad 14.

Dalam penelusuran Media Center, gelar panembahan memang baru dipakai dalam sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam di abad 16. Adalah Sutawijaya yang pertama kali menggunakan gelar ini, dengan tambahan nama Senapati Ing Alaga.

Di lapangan pun, khususnya di lokasi peristirahatan terakhir “Raja” Joharsari di kampung Juwar Barat, Desa Tanah Merah, Kecamatan Saronggi, masyarakat sekitar menyebut dengan Rato Juwarsare.

“Sejak dulu, kami menyebut beliau dengan Rato Juwarsare bukan Joharsari,” kata seorang warga sekitar, sebut saja Ani.

Menurut Ani, Rato Juwarsare memiliki saudara atau kerabat bernama Juwar Manik. Makamnya di sebelah timur lokasi Asta Joharsari atau Juwarsare.

“Entah sebagai apa Juwar Manik ini. Yang diketahui warga selama ini masih saudara Rato Juwarsare,” tambah Ani.

Ja’far Shadiq, salah satu anggota Komunitas Ngopi Sejarah (Ngoser) menduga, sebutan Juwar adalah nisbat tempat. “Bisa jadi makna Rato Juwarsare ini adalah raja yang berada atau bermukim di Juwar. Meski kemungkinan lain, nama Juwar baru ada setelah sang raja naik tahta,” katanya.

Makam Joharsari berada dalam sebuah cungkup yang atapnya terbuat dari jerami. Cungkup tersebut berukuran kurang lebih 3x3 meter. Tinggi cungkup tak sampai 2 meter. Sedang kijing Joharsari panjangnya lebih dari 2 meter.

Kembali pada literatur kuna Sumenep, Joharsari disebut sebagai putra Ario Asrapati, penguasa Sumenep sebelumnya. Asrapati adalah cucu Aria Bangah alias Wiraraja II, yaitu adik Wiraraja I (Banyak Wide).

Dalam catatan genealogi Sumenep, Joharsari disebut berputra Raden Piturut alias Pangeran Mandaraga. Pangeran Mandaraga ini adalah ayah Pangeran Bukabu (Notoprojo) dan Pangeran Baragung (Notoningrat). Sama seperti Joharsari, ketiganya juga penguasa Sumenep di masa-masa berikutnya.

Menariknya, dalam salah satu sumber catatan genealogi raja-raja Sumenep, Pangeran Mandaraga disebut sebagai anak Panembahan Kalijaga, Bluto. Di catatan itu juga, Kalijaga disebut sebagai salah satu anak Sunan Kudus, salah satu tokoh Wali Sanga Jawadwipa.

“Namun jika Joharsari diidentikkan dengan Kalijaga bin Sunan Kudus, maka terjadi anakronisme dalam sejarah. Yang mana ada ketidaksesuaian masa dengan tokoh. Joharsari disebut hidup pada abad 14. Sedang Sunan Kudus sendiri diyakini hidup di abad 15. Perlu kajian mendalam mengenai sosok Joharsari ini,” ujar Nurul, narasumber di atas. ( Han, Fer )