Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-06-2006
  • 580 Kali

MENDIKNAS TOLAK UJIAN NASIONAL SUSULAN

Sumenep-Kominfo News Room : Mutu nilai rata-rata nasional masih rendah. Karena itulah, pemerintah menganggap penting diselenggarakan Ujian Nasional (UN) sebagai standart untuk mendongkrak nilai rata-rata semua kalangan. “Menyangkut dari kalangan yang kaya maupun paling miskin, sekolah maupun madrasah. Semua terkena dengan standart yang sama menggunakan Ujian Nasional (UN)”, jelas Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo. Mendiknas mengatakan itu dalam Rapat Kerja Panitia Ad Hoc IV (PAH IV) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dipimpin Ketuanya, Anthony Charles Sunarjo, Eka Komariah Kuncoro di Ruang Rapat PAH IV DPD, Gedung Nusantara IV, Jakarta, Senin kemarin (26/06). Dijelaskan Mendiknas, kenapa dipilih matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karena, itulah yang membentuk manusia berfikir. Yang paling mendasar adalah logika yang dibentuk matematika dan bahasa. Demikian juga dengan rasa. Makanya tidak semua kami ujikan. Ia juga menyatakan, penyelenggaraan UN itu sama sekali tidak melanggar Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), sehubungan dengan munculnya uji materi di Mahkamah Agung (MA) yang diajukan beberapa kalangan masyarakat. Ternyata ditolak, karena Ujian Nasional (UN) tak melanggar Undang-Undang Sisdiknas. Ia mengakui, sekarang yang menjadi masalah besar adalah mengangkat mutu nilai rata-rata melalui instrumen UN. Maka, pemerintah menargetkan tahun 2008 akan tercapai nilai rata-rata 7 untuk SMA/SMK dan SMP. Kenyataanya, nilai rata-rata tersebut sudah dicapai pada taun 2006 ini. Jadi, peningkatan nilai rata-rata UN 2006 dinilai signifikan. Karena itu, pemerintah bertahan untuk menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) hanya sekali saja. Penyelenggaraan Ujian Nasional hanya sekali saja, mengandung pesan sangat jelas. Bambang Sudibyo menjelaskan, pemerintah tidak bersikap lembek dengan memberikan kesempatan ujian ulangan untuk siswa-siswi yang gagal lulus UN. “Betul-betul sekali saja, tidak bisa lagi ditawar. Mau tidak mau siswa-siswi itu harus bekerja keras. ( RS, Esha )