Media Center, Rabu ( 04/07 ) Kawasan Asta Tinggi memiliki beberapa situs kuna yang hampir tak tersentuh perawatan dalam jangka waktu yang relatif lama. Hal itu bisa dilihat dari kondisi bangunan dan makam yang mulai roboh, kotor, dan akses jalan yang begitu sulit karena dipenuhi tumbuhan liar. Salah satunya seperti yang Selasa (03/06) kemarin ditemukan oleh Tim Ngoser (Ngopi Sejarah) Sumenep. Sebuah tim yang konsern dalam diskusi kecil-kecilan tentang sejarah, dan sekaligus pengumpulan data seputar sejarah awal Sumenep.
Dalam pantauan Media Center, beberapa makam yang berada dalam dua kubah berhasil diidentifikasi. Salah satunya makam yang pernah diekspos oleh Media Center, yakni yang cungkupnya ditumbuhi pohon besar, dan pintu masuknya cukup unik, yang berupa akar pohon itu sendiri. Lokasi makam berada sekitar 50 meter dari jalan Raya. Semacam gang kecil ke arah barat, sekira 200 meter sebelum mulut tanjakan jalan Asta Tinggi.
“Tulisannya masih cukup jelas, yakni salah satunya ialah makam ibunda Pangeran Le’nan, atau salah satu isteri Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat,” kata RB. Ja’far Shadiq, salah satu anggota Tim Ngoser pada Media Center.
Sedang kubah lain yang berhasil diidentifikasi ialah kubah di sebelah barat kubah ibunda Pangeran Le’nan itu. Dari batu nisan diketahui bahwa yang bersemayam di dalamnya ialah jasad Kiai Raksa Jaya dan isteri beliau. “Di nisan Nyai Raksa Jaya yang masih cukup jelas tulisannya diketahui beliau wafat pada hari Jumat tanggal 30 Rabiul Akhir tahun Wawu, dan ada angka 1217,” kata Imam Alfarisi, salah satu anggota Tim Ngoser lainnya.
Menurut RB. Hairil Anwar, yang juga anggota tim, lokasi tersebut memang bisa dikatakan kompleks pemakaman khusus sesuai klasifikasi yang berlaku di masa keraton. Beberapa lambang dan simbol yang melekat pada kubah memang menarik untuk diteliti dan dikaji lebih jauh. “ Seperti jumlah batu-batu bulat yang bisa menjadi petunjuk dasar penentu status seseorang,” katanya.
Batu-batu bulat itu menurut Hairil merupakan ragam pola globe (simbolisasi bumi) yang biasanya jumlahnya ganjil. “Biasanya, makin banyak jumlahnya, makin tinggi kedudukannya,” tambahnya.
Di samping itu juga ada beberapa lambang yang menurut Hairil semacam ornamentasi kalamakara yang distilir atau disamarkan. “Saya sebatas curiga saja mengenai lambang itu. Kalau benar, bangunan yang menggunakan lambang ini umumnya adalah bangunan suci,” katanya lebih lanjut.
Sementara di sebelah utara kedua kubah itu juga masih terdapat sekitar 2 atau 3 kubah lagi. Namun akses masuknya lebih sulit lagi, sehingga tidak memungkinkan untuk diterobos tanpa dibersihkan dulu. Sehingga Tim yang digawangi Ja’far Shadiq, M. Farhan Muzammily, Hairil Anwar, dan Imam Alfarisi itu berencana untuk melanjutkannya pada Ahad (08/06) mendatang.
“Mungkin akan melibatkan beberapa pihak yang peduli. Karena ini situs sejarah yang harus dijaga bersama. Diharapkan juga dukungan dari pihak yang berkompeten, termasuk pemerintah daerah pada khususnya,” kata M. Farhan, anggota tim lainnya.
Menurut Ja’far Shadiq dari hasil share Tim Ngoser melalui medsos, banyak respon positif berupa dukungan dan kerelaan ikut bergabung dalam agenda hari Ahad itu. “Bahkan tak hanya dari Sumenep, dari luar daerah banyak yang menyatakan kesediaan dengan suka rela membantu baik berupa dana maupun tenaga. insya Allah Ahad pukul 09.00 WIB, kita langsung kumpul di lokasi. Diharapkan membawa peralatan dan mamin sendiri,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Asta Tinggi, RB. Ruska menyambut positif rencana tersebut. “Kami dukung penuh, dan siap membantu agenda ini,” tegasnya. ( Han, Fer )