News Room, Jumat ( 25/11 ) Tak kenal Judhanagara atau Yudanegara, sebuah ungkapan kuna yang kini sudah tak lagi populer. Padahal di jaman lampau, setiap orang khususnya di kawasan paling Timur pulau garam ini biasa melontarkannya ketika melihat etika sudah dikesampingkan atau akhlaq sudah ditinggalkan.
"Ungkapan ini tidak sembarang ungkapan. Karena terkait dengan pemimpin besar Sumenep yang dikenal berakhlaq mulia terhadap siapapun," kata R. B. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati muda sejarah di Kabupaten Sumenep pada News Room.
Judhanagara atau Yudanegara adalah Raja (Adipati) Sumenep yang memerintah sejak tahun 1648 - 1672 Masehi. Nama kecilnya ialah Raden Bugan alias Wongsojoyo. Beliau ialah putra Adipati Sumenep Pangeran Cakranegara ke-I yang gugur dalam peristiwa Invasi Mataram ke Madura pada 1621 Masehi. Raden Bugan satu-satunya anggota Keraton yang selamat.
Raden Bugan naik tahta atas bantuan Pangeran Trunojoyo, paman dari isterinya. Beliau dikenal sebagai Raja yang ramah, santun, dan berbudi luhur. Perilakunya sangat membekas di hati rakyat. "Beliau satu-satunya penguasa Sumenep yang bahkan biasa berdialog langsung dengan rakyat. Beliau tidak suka menerima laporan pejabat Keraton tanpa ditindaklanjuti dengan kroscek ke akar rumput," kata Nurul.
Begitu membekasnya pribadi beliau ini sehingga pasca wafatnya nama beliau tetap diagungkan. Bahkan dijadikan ungkapan terkenal yang menandakan ketinggian pribadi atau akhlaqnya. "Sehingga setiap perbuatan yang melawan sopan-santun, disebut tidak mengenal Judhanagara. Dan itu tak hanya berlaku bagi kalangan rakyat biasa, tapi semua orang tanpa melihat baju jabatannya," imbuh Nurul.
Namun kini ungkapan itu sudah tidak banyak lagi didengar, bahkan sudah mulai asing. Padahal itu merupakan bagian dari sejarah Kabupaten Sumenep. "Ketika sejarah sudah mulai dilupakan, maka ya hilang sudah jati diri Sumenep. Sejarah itu luas. Semuanya penting. Harus tercover hingga ke ujung akarnya, " pungkas Nurul. ( M. Farhan, Fer )