News Room, Selasa ( 15/07 ) Tradisi yang sangat kental dan berlangsung hingga saat ini adalah silaturrahmi, berkunjung ke famili. Kuatnya tradisi ini dapat dilihat dari orang Madura yang hidup merantau, tetap pulang ke kampung masing-masing untuk dapat menikmati gairah hidup di Desa atau kampung, dan dapat bernostalgia dengan masa lalu. Hal tersebut disampaikan Camat Kota Sumenep, Drs. H. Mohammad Junaidi, M.Si ketika selesai sholat berjamaah di Musholla Sirajul Muchlisin kepada News Room, Selasa (15/07). H. Junaidi menuturkan, makna silaturrahim tidak hanya terjadi di Madura, di luar Madura pun juga memiliki tradisi yang sama, yakni pertemuan keluarga. Selanjutnya harus dibuktikan dengan rasa persaudaraan yang kental sesudah lebaran, bukan hanya pada saat lebaran terjadi silaturrahim terasa ada tali persaudaraan. Untuk memaknai silaturrahim dapat membangun kebersamaan yang utuh dalam segala hal. Famili yang miskin harus dibantu, bukan hanya sekedar acara kunjungan yang semi seremonial, sementara substansinya menjadi hilang. Dalam ajaran Islam, sesudah bulan Ramadhan umat Islam disunnahkan berpuasa, barang siapa yang melakukan puasa selama bulan Ramadhan, kemudian ditambah dengan puasa sunnah selama 6 hari, maka ia akan mendapat pahala yang sama dengan puasa 1 tahun. ( JuP-01, Fer )