Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 17-11-2006
  • 532 Kali

MEDIA DIHARAPKAN MEMILIKI KEARIFAN DALAM PEMBERITAAN BENCANA

Sumenep-Kominfo News Room : Peranan media diharapkan memiliki kearifan dalam pemberitaan serta menginformasikan peristiwa bencana dan upaya penanganannya, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Ungkapan itu disampaikan Kepala Pusat Studi Bencana ITS, Amien Widodo saat membuka Seminar Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat Media dalam Penanganan Bencana, di Hotel Narita, Kamis kemarin (16/11). Dikatakannya, kebebasan media dalam menginformasikan kejadian dan kengerian dalam peristiwa bencana, seperti peristiwa tsunami di Aceh, dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat khususnya masyarakat pesisir pantai, begitu mendengar gempa mereka sangat ketakutan. Selain itu, informasi itu dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti issue akan terjadi tsunami di Jogya dan Pacitan beberapa waktu lalu. Banyaknya bahaya alam dan akibat ulah manusia bisa berubah menjadi bencana dikarenakan belum adanya pengetahuan dasar tentang bencana yang dimiliki masyarakat. Disamping itu, belum terlatihnya masyarakat dalam memahami proses bencana dan pemicu bencana. Oleh karena itu, peran media menjadi penting bahkan menjadi tulang punggung transformasi pengetahuan tentang bencana kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan adanya koordinasi antar media bagaimana memfasilitasi masyarakat media, agar tidak ada salah persepsi dalam menginformasikan bencana kepada masyarakat. Ketua Program Pascasarjana Studi Media Komunikasi UNAIR, Drs. Henry Subiakto mengatakan, dalam penyampaian informasi bencana yang terpenting adalah bagaimana manyampaikan komunikasi, agar masyarakat dapat menghadapinya dengan lebih tenang dan hati-hati. Selain itu, diperlukan komunikasi untuk menyampaikan warning kepada masyarakat, mengkoordinasikan tim penanggulangan bencana, sekaligus menunjukkan kepada publik dan media, bahwa pemerintah dan petugas bekerja dalam menanggulagi bencana, sehingga tidak terjadi krisis komunikasi. Dikatakan Henry, manajemen krsisis komunikasi sangat penting untuk membangun citra dan reputasi, serta memberi rasa aman, ketentraman dan menunjukkan eksistensi dan kesungguhan government. Agar tidak terjadi krisis komunikasi, maka organisasi, masyarakat maupun pemerintah, dituntut untuk mengantisipasinya terhadap penanganan krisis, baik dimensi teknis maupun komunikasi, harus dipersiapkan sebelum krisis atau pada saat bencana itu terjadi. Terkait hal itu, peran media massa amatlah penting. Media mempunyai tugas menyampaikan pesan atau peringatan kepada masyarakat mengenai tanda-tanda krisis atau bencana, sehingga masyarakat dapat mengenalinya serta menanggapinya secara dini untuk mengurangi dampaknya. Saat terjadinya bencana, ada tiga tahap dalam melakukan hubungan informasi, yaitu mengumpulkan, mengemas dan menyampaikannya, sehingga setiap elemen diharapkan mengetahui apa yang harus dilakukan. “Media massa bersama humas dituntut melakukan kampanye untuk mengurangi intensitas krisis dan dampaknya, serta memberikan panduan apa yang harus dilakukan masyarakat,” ujarnya. Henry menambahkan, tanpa peran media, semua perisriwa itu menjadi “nothing”. Untuk itu, media massa harus belajar dengan para ahlinya membuat inhouse training kepada seluruh crewnya, agar ketika menghadapi krisis dapat menerapkan journalisme yang tepat, bukan malah memunculkan kesalahan informasi. ( JNR, Esha, Soek )