Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 07-09-2021
  • 1388 Kali

Masa Pandemi, Guru SDN Batuan 1 Buat Angket Gaya Belajar Siswa

Media Center, Selasa ( 07/09 ) Kesulitan kegiatan pembelajaran di masa Pandemi COVID-19, tidak menyurutkan semangat guru khususnya di Kabupaten Sumenep, tepatnya di SDN Batuan 1. Seperti halnya yang dilaksanakan Maya Rusliyanti, S.Pd.SD, guru kelas 6 SDN Batuan 1.

Sebelum melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas yang dilaksanakan saat ini, yakni dengan melakukan asesmen diagnosis kepada siswa sejak masih dilakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi.

“Saya melaksanakan asesmen diagnosis terlebih dahulu kepada siswa-siswi kami sebelum materi dalam modul diberikan pada siswa, karena saya ingin mengetahui gaya belajar seperti apa yang ingin mereka lakukan dalam kondisi pandemi seperti ini,” ungkap Maya, panggilan akrab guru berkerudung ini.

Melalui asesmen diagnosis yang dilakukan dengan memberikan angket gaya belajar siswa tersebut, hasilnya bisa diketahui, karena sudah bisa memetakan anak dengan gaya belajar seperti apa yang mereka isi. Sehingga bisa dicari metodenya agar memperjelas pembelajaran.

Hasilnya setelah diberikan pertanyaan dan siswa mengisinya, tentunya bisa dilaksanakan asesmen diagnosis non kognetif. Sehingga inisiatif pada saat PJJ menggunakan Google Form untuk memberikan pertanyaan non kognetif pada siswa setelah dikirim lewat WhatsApp Group paguyuban orang tua siswa kelas enam, semua merespon dan mengisinya.

“Dari pengisian Google Form tentang angket gaya belajar siswa tersebut, sehingga saya mengetahui gaya belajarnya dan segera dipetakan melalui angket tersebut,” jelas Maya, Selasa (07/09/2021).

Dengan begitu sebelum melakukan pembelajaran guru sudah mengetahui melalui soal dalam angket gaya belajar siswa tersebut. Sehingga dengan memiliki dokumentasi cara belajar siswanya sudah bisa dipetakan.

Dari rata-rata 35 responden yang mengisi angket gaya belajar siswa kelas 6, diketahui berapa persentasenya atas beberapa pertanyaan dalam angket seperti halnya dalam pertanyaan sebagai berikut: Apakah kira-kira yang anda lakukan pada waktu merasa senang? A. Meringis (tersenyum) (dipilih 60%) B. Berteriak dengan senang (dipilih 14,3%) dan C. Melompat dengan senang (dipilih 25,7%).

Pertanyaan berikutnya pada waktu anda bercerita apakah anda memilih untuk? A. Menulisnya (dipilih 57,1%) B. Menceritakannya dengan suara keras (dipilih 22,9%) dan C. Memerankannya (dipilih 20%).

Kemudian apakah yang paling mengganggu bagi anda pada waktu anda mencoba untuk berkonsentrasi? A. Gangguan visual (dipilih 17,1%) B. Suara gaduh (dipilih 60%) dan C. Gangguan lainnya seperti rasa lapar, sepatu yang sempit atau rasa khawatir (dipilih 22,9%) dan banyak lagi pertanyaan dalam angket sekitar 30 lebih yang kemudian hasilnya dijadikan acuan dalam melaksanakan pembelajaran.

Bahkan, diakui Maya, respon Kepala SDN Batuan 1, Mariyatul Kiptiyah, S.Pd.SD, sangat baik ketika diperlihatkan hasil angket tersebut dan sudah bisa mengetahui metode apa yang perlu dilakukan.

Termasuk dari pengawas sekolah antusias dengan apa yang sudah dilakukan pada saat itu, karena kondisi pandemi yang hanya dilakukan PJJ, dan karena guru tidak perlu bertemu siswa guna memutus rantai penyebaran COVID-19 tentunya bisa diterima.

Bersyukurnya lagi menurut guru kelahiran 1976 ini, saat ini sudah dilakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, dengan tetap menggunakan Kurikulum Darurat (Kurdar) atau kurikulum khusus hasil dari kegiatan Workshop bulan April -Mei lalu, yang bisa dilakukan secara daring maupun luring, salah satunya melaksanakan literacy cloud yang mampu menggairahkan siswa dalam belajar.

“Karena ini juga untuk mengetahui apakah bisa berkesinambungan dengan pertanyaan kognitik. Sejauhmana efektifitasnya, apa siswa mampu membuat lagi kognitif dengan menggunakan Google Form dan sejauhmana siswa menyerap pelajaran dengan soal kognitif,” tandas Alumni IKIP PGRI ini. ( Ren, Fer )