News Room, Sabtu ( 19/02 ) Bagi pemilik perusahaan tahu di Desa Paberasan Kecamatan Kota, H. Abdurrahman, kesuksesan usaha tahu yang dijalaninya bertahun-tahun hingga seperti sekarang ini, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, membutuhkan proses panjang dan pengorbanan. Hal tersebut diungkapkan pria yang mengaku pernah menjadi TKI di Malaysia ini ketika ditemui News Room di rumahnya tadi siang. Sabtu (19/02). Menurutnya, keberhasilan usahanya tersebut sebenarnya tidak datang begitu saja serta berkat perjuangan dirinya sendiri semata. “Namun, usaha yang kami jalani ini dilatar belakangi saudara-saudara kami yang ingin bangun dari ketidak berdayaan, karena tidak memiliki pekerjaan,”ujarnya. Dijelaskan, dirinya sebenarnya memulai usaha membuat tahu ketika di tahun 1974 lalu ditawari temannya dari Desa Lalangon Kecamatan Manding untuk membeli salah satu alat pembuat tahu sederhana. Karena hanya modal kecil dan semangat juga kecil, usahanya hanya berjalan 2 tahun. Abdurrahman nekat pergi ke Malaysia, dan selama 4 tahun pria asal Desa Kalianget Timur ini mengumpulkan uang untuk pergi Haji ke Tanah Suci Mekah. Namun, sepulang naik Haji, Abdurahman semakin mantap untuk memulai kembali usaha tahunya yang sempat ditinggalkan. Sebenarnya, awalnya susah untuk memulai kembali usaha yang membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit itu. Disamping juga harus memiliki tempat pembuangan limbah agar tidak bau. Apalagi rumahnya berdampingan dengan saudara dan tetangganya. “Syukurlah, sejak tahun 2004 lalu, berkat tekat kami dan para saudara yang membantu pembuatan dan sebagian di bagian pemasarannya, menjadikan banyak tetangganya yang tertarik menjadi penjual tahu sekaligus sayur keliling,”ungkapnya. Saat ini, sedikitnya ada 10 hingga 12 orang pedagang sayur yang mengambil tahu ditempatnya. Disamping itu, pihaknya juga selalu menyisakan untuk pelanggan yang biasa membeli langsung ke pabriknya untuk kebutuhan yang besar maupun untuk konsumsi keluarga. Disamping itu H. Abdurrahman merasa puas bisa memberikan pekerjaan kepada 6 orang karyawannya yang bekerja secara bergantian setiap hari. Setidaknya, dia bisa menciptakan tenaga kerja dari hasil pengalaman menjadi tenaga kerja keluar negeri. “Semua sudah ada yang mengatur, hanya manusia harus ikhtiar untuk berharap rizki dari-Nya, agar diberikan kepada kita,”pungkasnya. ( Ren, Esha )