News Room, Jumat ( 27/11 ) Keberadaan varietas jagung lokal di Kabupaten Sumenep terus mengalami penurunan yang signifikan, bahkan saat ini bibit lokal sudah tidak diminati oleh petani, sehingga keberadaannya terancam punah, akibat tergerus bibit jagung varietas hibrida.
Salah satu petani asal Kecamatan Lenteng, Abd. Sujak mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir di daerahnya banyak petani yang membudi dayakan jagung varietas hibrida dibandingkan varietas lokal.
Alasannya, karena hasil produksi varietas hibrida lebih banyak dibandingkan dengan varietas lokal, hingga mencapai kisaran 50 persen.
Hal senada juga dikatakan oleh Ketua Peguyuban Pemerhati Kelompok Tani Sumenep, Zaenuri. Menurutnya, tergerusnya bibit lokal tidak hanya terjadi pada jagung, melainkan hampir semua jenis tanaman komoditi, seperti padi, bawang dan sejumlah tanaman holti kultura lainnya.
"Perubahan tersebut tidak hanya terjadi satu kecamatan, melainkan sudah menyebar luas dibeberapa Kecamatan, seperti di Kecamatan Guluk-guluk, Ganding, Lenteng, Ambunten, Talango, dan sejumlah Kecamatan yang lain,"ujarnya.
Tergerusnya bibit lokal tersebut salah satunya disebabkan karena banyaknya bantuan yang disuplay oleh Pemerintah Daerah kepada petani menggunakan bibit varietas hibrida. Bantuan tersebut biasanya disampaikan melalui kelompok tani.
Lebih lanjut, Zaenuri mengatakan, langkah yang dilakukan petani dinilai secara tidak langsung telah meniadakan kearifan lokal yang mestinya dipertahankan.
”Kami harap pemerintah peka terhadap peristiwa ini. Minimalnya harus membuat regulasi baru, baik itu berupa Perda (Peraturan Daerah) maupun Perbub (Peraturan Bupati), yang nantinya bisa menjadi payung hukum untuk melestariakan ketahanan pangan di Sumenep ini,”pintanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Sumenep, Ir. Bambang Heriyanto, M.Si mengakui, jika keberadaan bibit lokal saat ini mulai tergerus.
"Kalau data di Disperta dari luas areal lahan yang bisa ditanami jagung 1.900.000 hektar lebih, sebanyak 40 persen sudah menggunakan bibit dengan varietas hibrida. 60 persennya masih menggunakan bibit jagung unggulan lokal,"terangnya.
Menurut Bambang, pihaknya kedepan akan terus berupaya untuk mengkombinasikan varietas hibrida dengan bibit jagung unggulan lokal.
"Hanya saja upaya tersebut tidak bersifat memaksa, jika petani tetap menggunakan varietas unggulan lokal, ya dipersilahkan," ungkapnya. ( Nita, Esha )