Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 20-08-2015
  • 4521 Kali

Makna Penamaan Labang Mesem Keraton Sumenep

News Room, Jumat ( 21/08 ) Labang Mesem merupakan nama pintu gerbang Keraton Sumenep. Jika dibahasa Indonesiakan, Labang Mesem berarti Pintu Tersenyum. Selama ini banyak versi yang menyebutkan asal-usul penamaan pintu masuk atau gerbang utama keraton yang dibangun oleh Panembahan Sumolo ini.

"Dari sekian versi tersebut, saya kira dasarnya kurang jelas. Terlihat sekadar perkiraan atau penafsiran individual,"kata pengamat sejarah di Sumenep, RP. Mohammad Mangkuadiningrat, pada News Room.

Padahal, dinamakan Labang Mesem, menurut Mohammad tidak ada kaitannya dengan makna filosofis yang sering disebut selama ini.

Labang Mesem hanya sebuah nama saja, dikarenakan dulu, tepat di sebelah timur pendapa ada sebuah arca yang berbentuk seseorang yang tengah tersenyum. Arca tersebut terlihat tepat lurus dari luar pintu gerbang keraton.

"Jadi, ketika ada yang masuk melalui pintu atau Labang Mesem, akan langsung terlihat arca tersebut tengah tersenyum pada setiap orang yang mau masuk atau melalui pintu gerbang tersebut,"kata Mohammad yang akrab dipanggil Gus Mad atau Pak Mangku.

Sayang, arca tersebut kini entah ada di mana. Mohammad mengaku sudah tidak melihatnya lagi.

"Entah ada yang memindah atau ada yang mengambil, saya tidak tahu. Cuma dulu memang sejak saya kecil sering melihatnya jika ke keraton. Dan kisah tersebut memang saya dengar langsung dari sesepuh keraton sendiri,"kata putra bungsu R. Ario Mangkuadiningrat ini.

Terpisah, hal itu juga dibenarkan oleh R. Aj. Ratnadi, salah satu keluarga keraton. Menurutnya, apa yang dikatakan Gus Mad itu sesuai dengan yang diketahuinya selama ini.

"Saya juga mendengar langsung dari kakek saya yang dulu tinggal di keraton. Kebetulan menjabat sebagai Sekda, jika sekarang. Arca itu ada di dekat stupa atau lonceng,"kata cucu R. Ario Sasradingrat ini.

Ratnadi berharap agar semua pihak bisa turut berperan dalam menjaga peninggalan-peninggalan sejarah. Agar sejarah Sumenep yang selama ini masih berceceran, bisa dipungut, sehingga utuh kembali.

"Generasi muda harus tahu. Dan ini merupakan bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai luhur budaya kita,"tutup isteri almarhum R. Purnomo ini. ( Farhan, Esha )