News Room, Rabu ( 18/01 ) Sebanyak 25 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Rabu (18/01) pagi, berunjuk rasa didepan gedung rektorat universitas setempat. Sambil membentangkan poster diantaranya bertuliskan “Kami Generasi yang Selalu Menitipkan Harapan Terwujudkan Keadilan”, mereka juga berorasi menuntut pemerataan pembangunan di Fakultas Ilmu Kesehatan. Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Syaifurrahman mengatakan, sejak tiga tahun lalu, pembangunan di Fakultas Ilmu Kesehatan tidak ada penambahan, padahal pembayaran dana pengembangan pendidikan (DPP) untuk fakultasnya paling tinggi dibandingkan fakultas lainnya. “Kami mahasiswa FIKes uang pembangunan atau DPP itu banyar sekitar Rp. 7 juta. Sedangkan, mahasiswa fakultas lainnya hanya Rp. 1,5 hingga Rp. 2 juta. Tapi kenapa pembangunan gedung hanya memprioritaskan fakultas lain, bukan fakultas ilmu kesehatan. Kami hanya ingin dana alokasi yang dibayar mahal oleh FIKes, dikembalikan dengan penambahan atau pemerataan pembangunan gedung tersebut,”kata Syaifur, di Unija Sumenep, Rabu (18/01). Menurut Syaifur, untuk di Fakultas Ilmu Kesehatan ini banyak kekurangan, seperti laboratorium kebidanan. “Nah, kekurangan di FIKes ini mestinya diprioritaskan, baru fakultas lainnya. Tuntutan kami hanya pemerataan pembangunan fakultas saja. Masak sejak saya masuk, tiga tahun lalu tidak ada penambahan pembangunan di Fakultas Ilmu Kesehatan,”terangnya. Sementara, Rektor Unija Sumenep, Dra. Hj. Alwiyah saat menemui para demonstran menjelaskan, pembangunan gedung fakultas itu ada skala prioritas, sesuai kesepakatan Yayasan, Senat dan Rektorat. “Jadi, pembangunan fakultas di Unija tersebut tidak ada tebang pilih, semuanya akan disama ratakan, tapi ada yang diprioritaskan sesuai kebutuhan. Nah, bagi yang keberatan dengan kebijakan itu, dipersilahkan berkumpul diruangan saya, untuk membuat surat pernyataan keberatan. Dan, kalau memang ada yang mau keluar dari Unija Sumenep, karena tidak berkualitas, seperti yang diucapkan tadi, saya akan persilahkan juga,”tegas Hj. Alwiyah. Puas mendengarkan penjelasan Rektor Unija Sumenep, para mahasiswa FIKes meninggalkan gedung rektorat. Namun, mereka kecewan dengan statement Rektor Unija karena dianggap bukan sebuah penyelesaian, melainkan jawaban yang sifatnya ancaman. “Sudah jelas kami sangat kecewa dengan statement yang dikeluarkan Rektor Unija Sumenep tersebut,”ungkap Syaifurrahman. ( Nita, Esha )