Media Center, Kamis (18/11) Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah
Usymuni Sumenep (STITA) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Sumenep, menyelenggarakan Focus Group Discussioan (FGD), Kamis
(18/11/2021). Kegiatan tentang hasil penelitian seputar tambak udang di Sumenep
ini, dilaksanakan di lantai dua kantor Bappeda Kabupaten Sumenep.
Turut diundang dalam kegiatan tersebut
pihak Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan, Bagian Perekonomian Setda dan
Bidang Ekonomi Setda Sumenep. Menghadirkan juga tim peneliti yang dipimpin oleh
Ketua LP2M STITA Shulhan, bersama perwakilan anggota peneliti, Misnatun dan Moh
Zainul Kamal.
Dalam paparannya, Shulhan bersama timnya
menyampaikan temuan-temuan yang dikemas dalam judul “Analisis Dampak Sosial
Ekonomi Pengembangan Tambak Udang di Kabupaten Sumenep”. Temuan tersebut
menyebutkan taraf ekonomi mengalami peningkatan secara signifikan bagi
masyarakat penambak.
“Selain dampak positif terhadap
peningakatan kesejahteraan, aktivitas tambak berdampak buruk terhadap higinitas
air sumur, munculnya nyamuk dan bau busuk menyengat,” jelas Shulhan.
Sementara Misnatun mengungkap bahwa masyarakat
yang memanfaatkan lahannya untuk tambak, dapat memperoleh keuntungan yang
sangat tinggi, dan kondisi ekonomi mereka mengalami peningkatan secara drastis.
Sedangkan Kamal menjelaskan bahwa setelah masyarakat mengetahui prospek budi daya
udang, mereka berlomba-lomba membuka lahannya untuk usaha tambak dan enggan
menjualnya ke investor.
FGD tersebut dipandu oleh Kabid Penelitian
dan Pengembangan Bappeda Sumenep, Helmi. Kegiatan menghasilkan beberapa
rekomendasi kepada Pemerintah.
“Pertama, untuk membantu masyarakat
menyelesaikan problem irigasi, sanitasi dan limbah. Kedua, menyusun penataan
kawasan industri dan usaha produktif tambak udang yang ramah lingkungan, Ketiga,
peningkatan program penyuluhan dan pelatihan budidaya tambak undang dan akses
pemodalan,” ujar Helmi
Di tempat yang sama, Agus Wahyudi,
perwakilan Dinas Perikanan mengatakan pentingnya menekan dampak negatif dari
aktivitas tambak undang. “Untuk mewujudkan sistem tambak udang yang baik,
dibutuhkan master plan berupa integrasi lahan. Sehingga pembangunan tambak dan
IPAL atau instalasi pengolahan air limbah, lebih mudah. Tetapi tantangannya
terletak pada kepemilikan lahan perseorangan,” jelasnya.
Agus menambahkan, budidaya tambak udang membutuhkan perencanaan dan tata kelola yang baik, agar dapat menekan dampak negative, sekaligus meningkatkan sisi positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
(Miko, Han)