Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 18-11-2021
  • 794 Kali

LPPM STITA dan Bapedda Gelar FGD Hasil Penelitian Tambak Udang

Media Center, Kamis (18/11) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni Sumenep (STITA) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, menyelenggarakan Focus Group Discussioan (FGD), Kamis (18/11/2021). Kegiatan tentang hasil penelitian seputar tambak udang di Sumenep ini, dilaksanakan di lantai dua kantor Bappeda Kabupaten Sumenep.

Turut diundang dalam kegiatan tersebut pihak Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan, Bagian Perekonomian Setda dan Bidang Ekonomi Setda Sumenep. Menghadirkan juga tim peneliti yang dipimpin oleh Ketua LP2M STITA Shulhan, bersama perwakilan anggota peneliti, Misnatun dan Moh Zainul Kamal.

Dalam paparannya, Shulhan bersama timnya menyampaikan temuan-temuan yang dikemas dalam judul “Analisis Dampak Sosial Ekonomi Pengembangan Tambak Udang di Kabupaten Sumenep”. Temuan tersebut menyebutkan taraf ekonomi mengalami peningkatan secara signifikan bagi masyarakat penambak.

“Selain dampak positif terhadap peningakatan kesejahteraan, aktivitas tambak berdampak buruk terhadap higinitas air sumur, munculnya nyamuk dan bau busuk menyengat,” jelas Shulhan.

Sementara Misnatun mengungkap bahwa masyarakat yang memanfaatkan lahannya untuk tambak, dapat memperoleh keuntungan yang sangat tinggi, dan kondisi ekonomi mereka mengalami peningkatan secara drastis. Sedangkan Kamal menjelaskan bahwa setelah masyarakat mengetahui prospek budi daya udang, mereka berlomba-lomba membuka lahannya untuk usaha tambak dan enggan menjualnya ke investor.

FGD tersebut dipandu oleh Kabid Penelitian dan Pengembangan Bappeda Sumenep, Helmi. Kegiatan menghasilkan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah.

“Pertama, untuk membantu masyarakat menyelesaikan problem irigasi, sanitasi dan limbah. Kedua, menyusun penataan kawasan industri dan usaha produktif tambak udang yang ramah lingkungan, Ketiga, peningkatan program penyuluhan dan pelatihan budidaya tambak undang dan akses pemodalan,” ujar Helmi

Di tempat yang sama, Agus Wahyudi, perwakilan Dinas Perikanan mengatakan pentingnya menekan dampak negatif dari aktivitas tambak undang. “Untuk mewujudkan sistem tambak udang yang baik, dibutuhkan master plan berupa integrasi lahan. Sehingga pembangunan tambak dan IPAL atau instalasi pengolahan air limbah, lebih mudah. Tetapi tantangannya terletak pada kepemilikan lahan perseorangan,” jelasnya.

Agus menambahkan, budidaya tambak udang membutuhkan perencanaan dan tata kelola yang baik, agar dapat menekan dampak negative, sekaligus meningkatkan sisi positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(Miko, Han)