Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 06-12-2015
  • 1389 Kali

Letterkundige Natakusuma, Satu-satunya Adipati Bergelar DHC

News Room, Senin ( 07/11 ) Panembahan Natakusuma alias Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, Sultan Sumenep, memang dikenal sebagai seorang yang pakar di bidang bahasa, sastra, budaya, dan sejarah. Darah dari pihak ibunya, yaitu putri Adipati Semarang, trah Suroadimenggolo, dikenal sebagai keluarga bangsawan yang memiliki perhatian besar terhadap pengetahuan.

"Keluarga ini juga dikenal sebagai kalangan cendekia. Bahkan saudara sepupu Sultan, Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V, yang sekaligus juga mertua Sultan, dipuji oleh Raffles sebagai seorang yang banyak menguasai budaya dan peradaban tanah Jawa,"kata RB. Moh. Muhlis, salah satu anggota keturunan bangsawan Sumenep, dinasti Sultan Sumenep pada Media Center.

Dalam buku karya Raffles yang monumental, History of Java, Sultan Sumenep (Pakunataningrat), yang saat itu masih bergelar Panembahan Natakusuma, dan Adipati Semarang (Suroadimenggolo V) ini menjadi kontributor sekaligus narasumber. Kisah tentang kereta kencana Melor yang merupakan hadiah Ratu Inggris juga memiliki kisah yang tak terpisahkan dengan Raffles.

Ceritanya, pada suatu ketika, Raffles menemukan sebuah lempengan manuskrip berbahasa Sansekerta. Karena bersahabat dengan Panembahan Natakusuma II, dan tahu akan keahliannya di bidang bahasa, dimintalah bantuan pada Panembahan untuk menerjemahkan tulisan tersebut.

Panembahan yang selanjutnya bergelar Sultan ini menyanggupinya dan mengirimkan hasil translit manuskrip. Hasil tersebut ternyata cocok dengan hasil terjemah orang Hindustan yang datang berapa lama kemudian.

"Konon, dari cerita leluhur, Sultan Abdurrahman ini menguasai sekitar 40 bahasa. Ini juga mungkin merupakan salah satu karomah yang dimiliki beliau," kata RP. Zainal Abidin Amir, salah satu anggota keluarga keturunan bangsawan Keraton Sumenep lainnya.

Atas jasanya, Sultan mendapat gelar Doktor Honoris Causa (DHC) di bidang Kebudayaan dari Kerajaan Inggris. Letterkundige namanya. Bersama dengan gelar tersebut dihaturkan juga sebuah kereta Kencana yang selanjutnya dikenal dengan nama Melor di atas.

Dalam catatan sejarah, Sultan merupakan satu-satunya penyandang gelar ini di antara penguasa-penguasa Madura Timur maupun Barat. Dalam beberapa cerita tutur, kereta Melor hasil hadiah itu jarang digunakan atau mungkin tak pernah digunakan Sultan. Sultan dikenal sebagai pribadi yang suka menjalankan laku tirakat dan hidup bersahaja. Bahkan tak jarang beliau menyepi dan bepergian tanpa ditandu.

Sultan dikenal sebagai pribadi yang menjauhkan diri dari keduniawian. Bahkan pernah dalam sebuah pertemuan para Adipati di Jawa, beliau menempatkan emas sebagai terompahnya, saat semua Adipati yang menempatkan emas di atas kepalanya. Kata Sultan, dunia itu hina, jadi harus di bawah telapak kaki, bukan di atas kepala, kata salah satu keturunannya yang lain. ( Farhan, Esha )