News Room, Senin ( 01/03 ) Desa Langsar Kecamatan Saronggi yang dulunya merupakan daerah berbatu dan terjal, saat ini sudah berbeda dengan sepuluh, dua puluh tahun yang lalu. Batu-batu yang terhampar liar ditegal dan lahan-lahan kosong di Desa Langsar, saat ini sudah menjadi areal pertanian. Salah seorang warga Desa Langsar, Kandar, keberadaan batu-batu tersebut sudah ditambang sejak tahun 2001 lalu. Sebab, dirinya yang waktu itu menjadi Kepala Desa Langsar hingga berakhir 2007 lalu, menggunakan mesin penghancur batu, sehingga warga penambang batu memiliki penghasilan dari hasil penjualan batu tersebut. “Disamping tanah yang dimiliki bisa dijadikan lahan pertanian, batu-batu yang setiap hari dikumpulkan itu langsung didatangi pembeli yang siap menjemput,â€Âujar Kandar. Dijelaskan, setidaknya ada 50 orang penambang yang aktif sebagai penambang batu di Desa Langsar sendiri, sehingga ratusan hektar lahan yang dulunya berbatu, sudah bisa dibuat bercocok tanam. Bisa dibayangkan, bila setiap hari saja, mesin penghancur batu bisa menghasilkan 23 kubik. Sedangkan para penambang biasanya menjual batu setiap kubik dengan harga antara Rp. 40.000,00 hingga Rp. 60.000,00, sehingga saat ini untuk mencari batu di Desa Langsar sudah kesulitan, kecuali penambang yang menggali dari dalam tanah. Kandar menegaskan, saat ini pihaknya juga menerima kiriman batu dari luar Desa seperti, Desa Pagarbatu, Lobuk, Tanamerah dan sebagainya. Bahkan ada juga yang dibeli dari Kecamatan Batuputih. Bahkan, untuk lebih memanfaatkan mesin pemecah batu yang dimiliki satu unit lagi sejak 2005 lalu, dikirim ke pulau Kangean, tepatnya di Desa Batu Guluk, yang ternyata disana juga sangat bermanfaat, sehingga kebutuhan material pembangunan di kepulauan tidak perlu mendatangkan dari daratan. ( Ren, Esha )