News Room, Selasa ( 13/10 ) Minimnya greget generasi muda Islam dalam menyambut tahun baru 1 Muharram dipandang Ketua MUI Sumenep DR. KH. A. Shafraji sangat memprihatinkan.
Terlebih dengan fenomena sebaliknya yang terjadi selama ini justru tidak sedikit dari kalangan umat Islam malah ikut-ikutan kalangan non Muslim berlebih-lebihan dalam menyambut tahun Masehi yang notabene tradisi Nasrani.
“Seharusnya juga peringatan tahun baru Hijriah bisa lebih menggebyar, tapi tanpa harus meniru pesta tahun Baru Masehi,” kata Kiai Shafraji, pada News Room.
Kondisi ini dinilai Kiai Shafraji merupakan efek dari kurangnya pengenalan generasi muda pada sistem kalender Islam. Kalender Islam kalah populer pada kalender Masehi, karena memang dunia secara umum memang memakai kalender Masehi.
“Secara umum, ini efek dari kurangnya pengenalan generasi muda terhadap dunia Islam itu sendiri. Ya kalau dalam hal ini terhadap kalender Islam. Kita lihat saja, generasi muda kan lebih hafal pada bulan Januari, Februari dan seterusnya, ketimbang bulan Muharram, Shafar, Rabiul Awwal dan lainnya. Jadi perlu digalakkan dimasyarakatkannya kalender Islam,” tambahnya.
Oleh karena itu, menurut Kiai Shafraji, perlu adanya perubahan lebih baik yang harus melibatkan semua unsur. Mulai dari pemerintahnya, ulama, orang tua, guru, dan semua elemen lainnya.
“Disamping itu simbol-simbol Islam itu memang harus ditampakkan. Dan yang penting lagi, mari kita saling koreksi dan saling kontrol. Jangan mentang-mentang pemimpin atau ulama atau siapapun merasa sebagai pemilik otoritas kebenaran. Mari kita saling benah-membenahi,” tutupnya. ( Farhan, Fer )