News Room, Senin ( 15/06 ) Dewasa ini memang kebebasan berfikir dan mengutarakan pendapat mengemuka. Paham dan aliran yang semula tenggelam dalam “gerakan bawah tanah” mulai timbul ke permukaan, seiring dengan dibukanya kran bernama era reformasi.
Masing-masing aliran dengan tokoh-tokohnya mengklaim sebagai kelompok yang paling benar. Ironisnya, aktivitas saling menyalahkan mulai jadi kebiasaan.
Perselisihan di kalangan para pengikut dari kelompok-kelompok tersebut, jika dibiarkan, bisa menjadi api permusuhan yang berpotensi memecah-belah kesatuan Islam.
Berangkat dari fenomena ini, Drs. KH. R. Taufiqurrahman Syakur, M.Ag salah seorang tokoh agama di Sumenep mengatakan, bahwa Islam membutuhkan tokoh-tokoh yang bisa mendinginkan api permusuhan akibat beda pendapat tersebut.
”Harus tampil tokoh-tokoh agama yang bisa meredakan perselisihan pendapat selama ini,”tegasnya, pada News Room.
Mengenai hal itu, putra salah seorang Kiyai kharismatik Sumenep, almarhum KR. Abd. Syakur ini mengutip salah satu ayat dalam Al-Quran.
“Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman, Innamaa yakhsyaLlaaha min ibaadihil ulamaa u. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. Jadi salah satu kriteria umum bagi seorang yang patut dijadikan guru berdasar nash tersebut ialah ulama. Ulama sendiri itu tidak harus bergelar kiai. Namun, di sini ialah orang yang dengan ilmunya menampakkan sifat khasyya (takut; red) kepada Allah SWT,”tambahnya.
Mengenai penjabaran dari sifat khasyya yang dimiliki ulama, menurut Wakil Rais Syuriah PCNU Sumenep ini di antaranya ialah istiqamah dalam menjalankan semua aturan Allah SWT. Disamping itu juga sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya.
“Jadi ulama itu memang sangat hati-hati dalam berbuat. Karena mereka selalu merasa diawasi oleh Allah SWT,”imbuhnya.
Dalam tataran hidup sehari-hari, menurut Kiai Taufiq, ketika sifat takut kepada Allah itu muncul, maka secara otomatis setiap perbuatan yang bersangkutan tersebut selalu terjaga. Lisannya terjaga dari kata-kata yang gampang menyalahkan pendapat orang lain yang berbeda dengan dirinya.
“Tidak akan gampang memvonis orang lain itu salah, atau bahkan sampai mengatakan orang lain itu kafir. Ketika ia berbicara kebenaran, ia sadar bahwa kebenaran yang mutlak dan hakiki itu hanyalah milik Allah SWT,”tutupnya. ( Farhan, Esha )