Sumenep-Kominfo News Room : Keberadaan krisis spiritual yang saat ini sedang menderma masyarakat modern, merupakan akibat dari kegagalan arus modernisasi yang berkembang. Fenomena ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan buku-buku yang bersifat religius dan meningkatnya peserta peminat kajian-kajian yang membahas agama serta banyak berkembangnya aliran-aliran agama baru, juga seringnya media televisi menayangkan acara yang bersifat religius. Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Surabaya, Choirul Mahfud dalam seminar "Gerakan Spiritual dan Agama Baru " di Gedung Wisma Bahagia IAIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu kemarin (28/06) mengatakan, saat ini krisis spiritual kian akut dalam tubuh masyarakat modern. Salah satu contoh, seseorang yang hidup mewah dan bahagia dari segi materi, ternyata mengalami kekosongan spiritual dan banyak dari mereka mencari buku-buku spiritual untuk memenuhi dahaga rohani. Fenomena ini terjadi karena ditengarai dalam kehidupan modern seperti saat ini, manusia akan membutuhkan spirit ketuhanan dan ketenangan bathin. Bathin adalah bagian tak terpisahkan dari diri manusia yang perlu dipenuhi kebutuhannya. Ditambahkannya, arus modernisasi, globalisasi dan semakin canggihnya teknologi informasi, dalam satu sisi memang banyak memberi kemudahan dalam kehidupan saat ini. Namun pada sisi lain, bersamaan dengan itu munculnya persaingan yang ketat, kerasnya kehidupan, ataupun tawaran yang menggiurkan seringkali menimbulkan kegelisahan bathin dan pergolakan jiwa terganggu. Kondisi ini masih ditambah oleh adanya keinginan hidup secara instan bagi sementara orang yang berakibat pada kenekatan yang tidak masuk akal (utopia). Fenomena gerakan spiritual atau aliran-aliran agama baru tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga diseluruh penjuru dunia. Salah satu contoh gerakan spritual baru New Age (Amerika Serikat), Falun Gong atau Falun Dafa (China), Lia Eden (Jakarta), The Children of God (Inggris) dan lain sebagainya. Dalam perkembangannya, gerakan ini acapkali disalah pahami sebagai gerakan sempalan, dituduh sesat yang wajib diperangi dan dibasmi karena tidak sealiran. Dijelaskannya, UUD 1945 memang telah memberikan kebebasan untuk menjalankan agama yang dipercayainya kepada warga negaranya. Namun dalam aturan itu juga ada batasan yang diberlakukan terhadap beberapa jenis kegiatan keagamaan dan agama yang tak diakui. Direktur Eksekutif Resist Malang, Pradana Boy Z.T.F mengatakan, krisis spiritual yang ada pada dasarnya disebut sebagai eksistensial ilnes (penyakit eksistensi) yang akhirnya berakibat menjadi spiritual emergency (keadaan darurat secara spiritual). Ilmuwan lain juga mengatakan krisis spiritual akibat dari hilangnya identitas dan makna hidup, hidupnya jadi terbelah. Diri yang terbelah itu menjadi objek aliran-aliran baru karena menawarkan metode keinsyafan spiritual tentang makna hidup, pengendalian diri dan juga menjanjikan hidup yang lebih bermakna, arif dan bijak. Pradana yang juga mahasiswa The Australian Nation University (ANU) Cambera Australia itu mengatakan, kalau kita kurang bisa memaknai hidup, maka akan terjerembab pada fenomena kesesatan pada masa modern itu sendiri. ( JNR, Esha )