Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 20-12-2008
  • 664 Kali

Krisis Global, Pengrajin Topeng Terancam Gulung Tikar

News Room, Sabtu (20/12) Krisis global yang melanda hampir seluruh negara, menyebabkan pemasaran produk lokal ke luar negeri semacan pengrajin topeng terhambat, sehingga sejumlah pengrajin topeng di Kabupaten Sumenep, terancam gulung tikar. Sebab, selain makin lemahnya pemasaran keluar negeri, mereka juga terhimpit modal. Pengrajin topeng yang sangat terpukul dengan kondisi keuangan dunia saat ini yakni Moh Saleh (41), warga Desa Salopeng, Kecamatan Dasuk. Satu-satunya pengrajin topeng yang produksinya digemari warga Amerika ini menghentikan pemasaran di luar negeri. Topeng yang dihasilkan dari darah seniman ini kini dipatok Rp 125 ribu per buah untuk ukuran besar. Ukuran sedang Rp 100 ribu, sedangkan ukuran souvenir hanya dipatok pada kisaran Rp 25 ribu per buah. Sebelum terhimpit dampak krisis global, pesanan dari luar negeri berkisar antara 300 sampai 500 buah setiap bulannya. Baik yang dipesan melalui jasa pemesanan maupun dari wisatawan luar negeri yang menyempatkan diri setelah berkunjung ke Bali. Topeng buatan Moh Saleh ini tembus di pasar luar negeri setelah pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata memberi kesempatan untuk ikut pameran di awal tahun 80-an. Karena dinilai potensial untuk pengembangan ekonomi keluarganya, Moh Saleh yang juga pemain Topeng Dalang Madura ini meningkatkan produksinya dan mempekerjakan semua keluarga besarnya. Moh Saleh mengaku terpukul dengan krisis keuangan dunia saat ini. Meski usahanya tidak sebesar perusahaan kelas nasional, tapi dengan keterbatasan modal dan macetnya pemasaran keluar negeri juga berpengaruh terhadap ekonomi keluarga dan pengembangan produksi topeng. “Jika pesanan ke luar negeri macet. Otomatis produksi topeng juga berhenti,” terangnya. Disisi lain, promosi topeng yang difasilitasi pemerintah daerah saat ini juga lemah, tidak segencar pada tahun 80-an. “Waktu itu, pamaren dalam negeri hampir setiap 2 bulan sekali. Bahkan, keluar negeri juga difasilitasi. Tapi, untuk saat ini bentuk promosi seperti itu tidak ada,” keluhnya. Saleh berharap pemasaran topeng kembali bangkit, karena untuk mendapatkan bahan produksi topeng seperti kayu bintaos mudah didapat dan harganya juga terjangkau. “Mudah-mudahan pemerintah kabupaten memperhatikan nasib pengrajin topeng, yang sudah diujung tanduk kehancuran ini,” pungkasnya dengan penuh kecemasan. (Nita, Adjie)