News Room, Jum’at ( 09/07 ) Pemerintah Kabupaten Sumenep berencana untuk menunda konversi minyak tanah ke gas elpiji di sejumlah Kecamatan diwilayah kepulauan. Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Drs. H. Suprayogi, M.Si mengatakan, pihaknya berencana menunda pelaksanaan konversi minyak tanah ke gas elpiji, sebab berdasarkan masukan dan informasi dari tokoh masyarakat, bahwa kondisi masyarakat kepulauan lebih membutuhkan minyak tanah dari pada gas elpiji. Alasan masyarakat sangat membutuhkan minyak tanah dari pada gas elpiji, mengingat masyarakat kepulauan tidak hanya membutuhkan minyak tanah untuk kebutuhan memasak dirumah tangga saja, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-harinya sebagai nelayan. â€ÂBerdasarkan informasi dari sejumlah tokoh di kepulauan, kebutuhan minyak juga sebagai kebutuhan aktivitasnya sehari, juga sebagai bahan penerangan dirumah dan untuk kebutuhan bahan bakar melaut menangkap ikan. Tapi yang jelas, konversi minyak tanah ke gas elpiji khususnya pendistrusian tabung dan kompor gas ditunda menunggu hasil sosialisai yang dilaksanakan kontraktor pelaksana dimasing-masing Kecamatan kepulauan, apakah mayoritas masyarakat memang meminta penundaan atau sebaliknya,â€Âtegasnya. H. Suprayogi menyatakan, penundaan konversi minyak tanah dikepulauan selain belum siapnya masyarakat, juga disebabkan sarana stasiun pengangkutan dan pengisian bulk elpiji (SPPBE) belum tersedia dikepuluan, sehingga khawatir stok gas elpiji tersendat saat pengiriman terganggu oleh faktor cuaca dilaut. â€ÂDalam waktu dekat ini, semua Kecamatan dijadwalkan dilakukan sosialisai pada warga masyarakat oleh 7 perusahaan yang ditunjuk Pertamina sebagai pelakasana sosialisasi dan pendistribusian paket perdana LPG tabung 3 kilogram,â€Âungkpanya. Sementara calon penerima paket LPG tabung 3 kilogram di 27 Kecamatan berdasarkan pendataan untuk rumah tangga penerima sebanyak 305.781 rumah tangga, dan usaha mikro penerimanya sebanyak 8.408 pengusaha. ( Yasik, Esha )