Sumenep-Infokom News Room : Sekitar 110 warga Dusun Kali Putih, Desa Kemiri Kecamatan Panti, Jember Jawa Timur yang menjadi korban banjir bandang dan tanah longsor, saat ini terancam kelaparan, karena belum mendapat bantuan makanan. Salimah, seorang warga Dusun Kaliputih Desa Kemiri, Selasa (03/01) mengakui bahwa sudah 2 hari warga tidak mendapat bantuan makanan, karena regu penolong kesulitan mencapai lokasi, setelah jembatan pasar Bunut untuk menuju Dusun tersebut terputus. “Kami khawatir, apabila dalam sehari ini warga tidak mendapat bantuan makanan, korban akan bertambah. Kondisi warga sangat memprihatinkan, terutama balita dan anak-anak “, tuturnya lirih. Hingga saat ini, Tim SAR dari Brimob dan TNI terus berusaha menuju lokasi Dusun Kaliputih untuk memberikan pasokan makanan. Sementara itu di Kantor Desa Kemiri, ratusan pengungsi yang sudah berhasil dievakuasi mendapatkan perawatan dari Tim Medis. Sedangkan korban meninggal langsung dikirim ke RSUD dr. Soebandi Jember. Data terakhir yang diperoleh dari Kepala Desa Kemiri, M. Shodiq, jumlah korban meninggal hingga kini (pukul 10.00 WIB) sudah mencapai 62 jiwa. Selain di Kantor Desa Kemiri, ada sejumlah lokasi yang dijadikan tempat pengungsian warga, diantaranya di Dusun Tembiling, Desa Kemiri terdapat sekitar 1.800 jiwa yang ditampung ditenda-tenda dan rumah serta bangunan sekolah. Kemudian di Dusun Kalikepuh Desa Suci terdapat 200 jiwa, di Ponpes milik KH. Sahadi Dusun Lebong Desa Serut ditampung sekitar 300 jiwa, di Kantor Koramil Panti sebanyak 109 jiwa, dan di Kantor Kecamatan Sukorambi sebanyak 1.300 jiwa. Para pengungsi tersebut sudah mendapatkan bantuan makanan dan obat-obatan yang telah disiapkan. Gubernur Jawa TImur, Imam Utomo yang ditemui saat meninjau lokasi musibah menyatakan, bencana banjir banding di Jember ini bukan akibat penebangan liar, melainkan karena embung (telaga kecil penadah air) tidak mampu menampung tingginya curah hujan yang turun disekitar pegunungan Argopuro. “Untuk itu, Pemerintah Propinsi Jawa Timur segera memikirkan perelokasian area pemukiman penduduk yang menjadi jalur limpahan embung dari pegunungan Argopuro. Sebab bila tidak dilakukan, kejadian serupa akan terulang“, ucapnya. Informasi yang diperoleh dari dinas Kehutanan Jawa TImur menyebutkan, hutan disekitar pegunungan Argopuro kondisinya masih cukup lebat. Dinas Kehutanan Jawa Timur bersama Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) telah menurunkan Tim untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana alam besar diawal tahun 2006 ini. ( KCM, Ong, Esha )