Media Center, Selasa ( 10/03 ) Kalau menuju kawasan Kalianget, tepatnya di Kalianget Barat, akan ditemui kawasan bernama Ji Kantang. Nama itu merupakan pelafalan masyarakat setempat. Nama sebetulnya ialah Loji Kantang.
Di tempat itu, seorang wakil raja di Sumenep, bersama seorang putra dan puluhan pasukannya gugur. Peristiwa itu diawali dengan kontak fisik dengan serdadu Inggris yang mendaratkan kapalnya di pelabuhan Saroka.
Kiai Angabai Mangundireja atau Ke Mangon. Patih dalem di masa Panembahan Natakusuma (1762-1811). Sang Patih memimpin pertempuran pada 1796 itu. Sedang sang Panembahan tengah berada di negeri Semarang.
Menurut sebuah keterangan sejarah, peristiwa itu terjadi kala Inggris datang ke Indonesia untuk merebutnya dari tangan Belanda, sehingga Gouverneur Generaal (gubernur jendral) J. W. Jansen kalah perang lalu mundur ke Semarang untuk melawan Inggris di sana.
“Sumber itu juga menyebut bahwa saat itu Pangeran Natakusuma bertolak ke Semarang untuk membantu Belanda. Namun karena Belanda keburu takluk, sehingga pasukan Natakusuma kembali ke Sumenep,” kata R. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.
Namun peristiwa Jansen itu terjadi pada 1811, sedangkan dalam kubah Ke Mangon, prasasti jelas bertuliskan 1796. Di 1811, Panembahan Natakusuma sudah wafat dan diganti oleh putranya, Sultan Pakunataningrat.
“Jadi perlu semacam pelurusan terhadap sumber yang menyatakan bahwa peristiwa Ke Mangon itu terjadi pada 1811,” tegas Nurul, Selasa (10/03/2020).
Kembali ke Ji Kantang, saat kontak fisik itu Ke Mangon dan pasukannya bertarung habis-habisan. Namun beliau pun roboh saat bedil serdadu Inggris menembus tubuhnya. Tokoh yang sudah sepuh itu pun menghembuskan nafas terakhirnya di Loji Kantang.
“Sehingga untuk mengenang itu, ada ungkapan Jimbrit baceng kamarong kellana maronggi, Inggris dateng Ke Mangon mate e Loji. Artinya Inggris datang, Kiai Mangon mati atau wafat di Loji,” kata Nurul.
Jenazah Ke Mangon dimakamkan di Asta Tinggi dengan kijing dan ornamen makam yang sangat istimewa. Konon, hal itu sebagai bentuk penghargaan dari Panembahan Natakusuma atas jasa-jasa sang patih. ( Han, Fer )