Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 03-08-2015
  • 614 Kali

Kisah Soenjoto, Memilih Berjuang Daripada Bersekolah

News Room, Selasa ( 04/08 ) Hampir 70 tahun silam Indonesia secara formal merdeka. Namun, pasca pembacaan Teks Proklamasi oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta, bukannya usai, perjuangan bangsa ini terus berlanjut ke babak baru, yakni mempertahankan kemerdekaan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri di atas pengorbanan putra-putrinya. Melalui perjuangan tulus dan ikhlas mereka, dengan menanggalkan rasa takutnya pada kematian akibat terjangan peluru-peluru maut penjajah yang setiap saat mengintainya.

“Pada saat itu yang ada hanya rasa marah dan tidak terima, karena bangsa kita disewenang-wenangi oleh kaum Belanda,”kenang Soenjoto, Ketua Legiun Veteran Kabupaten Sumenep pada News Room.

Pernah pada saat itu, suatu hari di Kota Solo tepatnya tahun 1948, Soenjoto dan kawan-kawan yang kebagian tugas memasang teks-teks baliho, poster, dan semacamnya yang berisikan tulisan “Merdeka atau Mati”, “Belanda tidak akan mungkin menjajah Indonesia”, dan lain sebagainya, nyaris kehilangan nyawa saat diberondong oleh senapan otomatis milik Belanda.

“Dengan mata kepala sendiri, saya melihat dan merasakan peluru itu hanya berapa inci dari atas kepala saya,”terangnya sambil menerawang ke atas langit-langit gedung Veteran Sumenep di sebelah timur Kantor Kecamatan Kota di Desa Pamolokan. Bahkan dari saking terkejutnya, Soenjoto dan kawan-kawan lari serabutan mencari tempat berlindung, tanpa sadar medan yang penuh dengan semak berduri, bebatuan cadas, dan sungai yang mengalir deras.

“Saya malah tak merasa tengah melawan arus sungai kala itu. Padahal seandainya  di situasi normal, mungkin saya tidak akan bisa berenang sambil melawan arus sungai yang memang begitu kuat dari arah hulu,”tambahnya. Ya, Soenjoto memang anggota veteran mempertahankan kemerdekaan golongan D dari wilayah Solo. Seperti diketahui, veteran tersebut terdiri dari 4 golongan. Golongan A ialah mereka yang berjuang mempertahankan kemerdekaan saat terjadi clash dari tahun 1945 hingga 1949. Golongan B dari sejak tahun 1946 hingga 1949. Golongan C sejak tahun 1947 hingga 1949, dan golongan D sejak tahun 1948 hingga 1950.

Sedangkan secara umum ada 3 tingkatan veteran, yang tertinggi adalah veteran perang kemerdekaan, kemudian veteran perang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dari agresi luar negeri, dan selanjutnya adalah veteran perang untuk membela kepentingan bersama bangsa-bangsa yang menjadi sekutunya, atau membela kepentingan politik tertentu negaranya.

Pensiunan tentara yang tidak pernah berperang melawan musuh dari luar, tidak mendapat predikat veteran, hanya purnawirawan. Usia Soenjoto saat itu masih relatif begitu muda, 15 tahun. Diakuinya kala itu ia masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Pertama yang sebelum Indonesia merdeka bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Namun, kendati masih bau kencur untuk ukuran anak muda jaman sekarang, semangat berjuang Njoto (panggilan akrabnya; red) sangat tinggi. Ia bahkan rela melepas masa belajarnya sekaligus masa bermainnya untuk bergabung dalam barisan Brigade V di bawah kendali Overste (sekarang Letnan Kolonel) Slamet Riyadi di Jawa Tengah.

“Dengan berbekal keberanian dan senjata sederhana jenis Karaben, tugas saya waktu itu mengganggu dan mencegah konvoi Belanda dari daerah Solo ke Jogjakarta,”jelas mantan Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Sumenep era Bupati Soemar oem ini.

Baru setelah pengakuan kedaulatan, para pejuang veteran yang notabene kalangan pelajar diberi 2 pilihan, melanjutkan ke pendidikan militer atau kembali ke bangku sekolah. Dua-duanya dengan mendapat tunjangan pendidikan atau beasiswa dari pemerintah. Rupa-rupanya, Njoto memilih melanjutkan sekolah hingga lulus SMP, SMA, dan perguruan tinggi non sarjana di kota Surabaya. ( Farhan, Esha )