News Room, Rabu ( 24/02 ) Sumenep dari sejak dulu kala memang dikenal sebagai Kota gudangnya ulama dan para wali. Salah satu tokoh ulama di bidang ushul (ilmu Tauhid) yang dikenal di generasi awal, namun justru tenggelam di generasi kini ialah Kiai Haji Ahmad Bakri bin Haji Muhyiddin, Desa Pandian Kecamatan Kota Sumenep.
Menurut cerita bekas santrinya, Raden Bagus Ma ruful Karchi, kiai Bakri merupakan sosok ulama ushul (tauhid) yang tawadlu. Ketika misalnya hadir dalam suatu undangan, beliau tidak pernah berkumpul dengan tokoh-tokoh kiyai atau priyayi yang juga hadir saat itu. Beliau malah membaur dengan anak-anak kecil, atau di tempat berkumpulnya kalangan biasa. Saat makan hidangan pun beliau menampakkan diri sebagai orang yang rakus.
“Padahal dalam kehidupan sehari-harinya beliau jarang makan, dan makan cuma sedikit, sehingga badannya kurus kering. Ketika ditanya kenapa beliau terlihat rakus saat menyantap makanan di hadapan semua orang, beliau hanya menjawab, biar saya dicela oleh manusia,”gus Ma ruf, panggilan Ma ruful Karchi, pada Media Center.
Kiai Bakri juga seorang yang selalu haus akan ilmu. Guru pertamanya ialah Raden Ario Abdul Ghani Atmowijoyo alias Tearjha Atmo, salah satu ulama besar ilmu Tauhid di Sumenep. Namun setelah gurunya wafat beliau terus memperdalam ilmu. Bahkan kendati sudah renta, beliau terus senantiasa “nyantri”. Pesantren yang beliau tuju masih di lingkungan keluarga keraton, yakni pesantren Loteng yang didirikan oleh Sayyid Raden Bagus Hasan bin Muharrar. Kiai Bakri berguru pada putra Gus Hasan, yakni Raden Bagus Abdul Lathif.
Mengenai antusiasme Kiai Bakri terhadap ilmu ini ada tiga alasan, seperti yang dikatakan oleh Gus Ma’ruf. Yang tertama ialah untuk menghilangkan sifat ketakabburan karena merasa sudah ‘alim. Yang kedua, karena keutamaan mencari ilmu. Dan yang ketiga, karena ingin mati saat dalam keadaan menuntut ‘ilmu.
Kiai Bakri juga seorang yang sangat takzhim pada guru. Semua kebiasaan dan ajaran gurunya selalu beliau terapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau tidak suka tausiah atau ceramah agama yang dibawakan sambil bercanda atau melucu. Kiai Bakri juga melarang nyanyi-nyanyian dalam setiap acara walimah, seperti hadrah dan semacamnya. “Setiap perbuatan kae itu acuannya hanya gurunya,”kata salah satu putra Kiai Bakri, Kiai Haji Ahmad Shadiq.
Diceritakan oleh kiai Shadiq, Kiai Bakri pernah berkata pada santri dan keluarganya, “guru saya pernah bilang bahwa tubuh manusia itu berlafazh Muhammad. Oleh karena itu, api neraka tidak akan bisa menyentuhnya. Jadi siapa saja yang kelak di akhirat masih dalam bentuk jasad yang sama saat masih hidup, maka insyaAllah ia akan selamat dari siksa api neraka. Namun beda jika karena amalnya manusia tidak lagi berujud aslinya, seperti misalnya berujud binatang”.
Oleh karena itu, selama hidupnya Kiai Bakri seperti yang dikatakan oleh Kiai Shadiq selalu menolak jika difoto, apalagi sampai foto seluruh badan. Karena kemuliaan lafazh Muhammad dalam tubuh setiap manusia itu.
“Cuma ada satu foto saat beliau sudah sepuh, itupun istilahnya dicuri atau tanpa sepengetahuan beliau oleh kakak saya Abunawas Bakri. Foto tersebut saat ini disimpan saudara saya, tampilannya kurang jelas karena agak jauh dan membaur dengan beberapa orang,”tambah kiai Shadiq. ( Farhan, Esha )