News Room, Kamis ( 02/07 ) Di Kabupaten Sumenep, nama Sultan Abdurrahman tetap harum hingga saat ini. Tak hanya bagi anak cucunya, namun juga masyarakat luas. Terbukti, hingga saat ini makam dan peninggalan penguasa negeri Sumenep di kurun 1811-1854 ini terus-menerus dibanjiri peziarah dari mana saja.
Salah satu karya monumental peninggalan Raja bertitle Letterkundige, sebuah gelar Doktor Honoris Causa di bidang kesusastraan dari Pemerintah Inggris waktu itu, ialah sebuah mushaf Al-Quran seratan (tulisan; red) tangan dinginnya.
Al-Quran tersebut saat ini tersimpan dengan rapi di gedung Museum Keraton Sumenep. Tepatnya di gedung Museum III, Pendapa Agung Keraton Sumenep di Kelurahan Pajagalan. Berbagai kisah seputar penulisan mushaf Al-Quran karya Sultan Abdurrahman berkembang di kalangan pengunjung.
Salah satu guide museum mengatakan bahwa proses penulisan Al-Quran tersebut berlangsung singkat. Bahkan nalar pun dibuat susah mencernanya. “Konon, Al-Quran tersebut ditulis hingga selesai hanya dalam waktu satu hari satu malam”, jelasnya.
Dalam cerita tutur para sesepuh Keraton yang notabene merupakan keturunan Sultan Abdurrahman, disebutkan bahwa hampir tiap malam sang Raja menulis kitab, termasuk Al-Quran 30 juz tersebut. Dan uniknya, beliau tidak menyediakan obor atau penerang yang sifatnya digantung atau ditempatkan pada wadah khusus.
“Setiap malam bergantian para putra Sultan yang menjadi pemegang obor setiap malam hingga fajar menyingsing. Jadi cerita Al-Qur’an ditulis satu malam itu tidak ada dasarnya,” kata RB. Deny Fahrurrazi, pada News Room.
Bisa dibayangkan, para Pangeran bergantian memegang obor semalam suntuk, tidak tidur, dan dilakukan sambil berdiri. Sebuah didikan yang keras, dan yang jelas tidak semua putra raja sebelumnya maupun sesudahnya, baik di Sumenep maupun di luar Sumenep yang mungkin pernah menjalani training kehidupan semacam ini.
“Jadi kehidupan para putra Raja di masa Sultan tidak seperti yang dibayangkan. Mereka dididik untuk benar-benar taat sepenuh hati pada orang tua, dan diajari hidup susah juga. Jadi tak sekadar hidup mewah dan mentang-mentang putra Raja,”pungkas Deny. ( Farhan, Esha )