News Room, Selasa ( 21/04 )Kiprah perempuan Sumenep hingga saat ini masih jauh dari harapan pahlawan Ibu RA. Kartini. Karena, fakta yang ada sebagian besar perempuan Sumenep memilih berdiam diri menjadi ibu rumah tangga dari pada terjun ke dunia kerja.
Rektor Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Hj. Alwiyah, SE, MM, mengatakan, sebenarnya perjuangan Ibu Kartini belum berakhir.
"Kalau dulu Ibu RA. Kartini memperjuangan hak perempuan mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki. Saat ini pun perempuan tetap harus berjuang bagaimana meneruskan perjuangan Kartini agar tidak disia-siakan," kata Rektor Unija Sumenep, Selasa (21/04).
Alwiyah, yang merupakan satu-satunya perempuan pemimpin Perguruan Tinggi Swasta di Madura ini menilai, para perempuan khususnya di Sumenep tidak bisa memaknai perjuangan kartini dengan benar.
"Itu bisa dilihat dari keterwakilan perempuan di legislatif yang tidak mencapai 30 persen. Jumlah perempuan yang duduk di kursi DPRD Sumenep hanya 3 orang saja, mestinya 15 perempuan dari 50 anggota dewan," terangnya.
Rektor Unija itu juga mengungkapkan, bahwa kondisi tersebut bukan kesalahan siapa-siapa melainkan para perempuan Sumenep sendiri yang terkesan tidak percaya diri dan tidak benar-benar memperjuangkan haknya.
"Faktor lain yang menyebabkan kiprah perempuan sedikit di Sumenep, adalah masih adanya pernikahan dini. Sehingga emansipasi wanita tidak berguna lagi akibat kalah dengan adat," ungkapnya.
Untuk itu, melalui perguruan tinggi yang dikelolanya Alwiyah mengajak mahasiswinya supaya bisa berkreasi dan mengisi perjuangan kartini dengan berkiprah di segala bidang, baik pendidikan maupun pemerintahan.
Sehingga pada tanggal 21 April 2015, sebagai Hari Kartini, Alwiyah mendapat penghargaan dari para mahasiswanya sebagai Kartini Universitas Wiraraja Sumenep.
"Ini reward luar biasa yang saya terima dari para mahasiswa. Ternyata semangat saya membesarkan Unija menjadi motivasi para mahasiswa. Saya sangat bersyukur," ucapnya. ( Nita, Fer )