Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 17-06-2015
  • 733 Kali

Kiprah Pemuda Dan Kisah Pencari Berkah Di Alun-alun

News Room, Kamis ( 18/06 ) Memasuki area Taman Adipura di saat-saat tertentu, seperti di awal masuknya bulan Ramadlan tahun ini, memang begitu menyenangkan. Ada sensasi tersendiri yang sukar dilukiskan. Meski tak seramai, waktu sore atau malam, suasana khas bulan suci di lokasi yang dulunya disebut Alun-alun ini sudah terasa. Pedagang di Taman Adipura rata-rata kalangan muda.

Dari hasil bincang-bincang santai News Room, tidak sedikit mereka yang asalnya putus sekolah. Meski ada juga yang masih berstatus pelajar. Namun, dengan berbekal semangat dan sedikit modal, mereka nekad terjun ke dunia wirausaha.

Rusdi, 35 tahun, salah seorang pedagang yang mengadu nasib di Taman Bunga itu menuturkan, bahwa awalnya ketika dirinya masih bujang, merasakan begitu sulitnya mendapatkan pekerjaan. Apalagi dengan bekal ijazah lulusan SMP yang ia miliki, waktunya habis untuk sekadar menganggur. Dan, kondisi itu berbalik arah, ketika pria satu anak itu memutuskan untuk menikah.

“Tuntutan hidup mas. Dan saya melihat adanya peluang yang tidak sedikit. Jadi, tidak benar jika mengatakan bahwa di Sumenep susah cari kerja untuk makan. Bagi saya di setiap tempat itu ada rejeki yang sudah disediakan Allah,”katanya mantap.

Namun, bagi lelaki berkumis tipis ini, terlebih dulu seseorang harus sadar dengan arti tanggung jawabnya sebagai manusia. Baginya itu syarat mutlak bagi seorang muda untuk maju. “Seperti seorang suami yang sekaligus ayah, ia memiliki tanggungan nafakah. Jadi, tak ada alasan untuk berpangku tangan,”lanjutnya.

Rusdi juga menuturkan, bahwa pembangunan di Sumenep itu kuncinya ada pada kalangan mudanya. Disamping secara fisik lebih energik, jiwa dan darah mudanya juga masih panas. Panas disini menurutnya, dalam artian lebih bersemangat, ketimbang kalangan tua.

“Seiring dengan bertambahnya usia, semangat bertambah dingin mas. Jadi, bawaannya lesu terus. Makanya, yang ada di sini kebanyakan muda-mudi. Dan itu bisa dilihat dari aktivitas mereka yang tak kenal lelah membanting tulang mengais rejeki,”tambahnya.

Berbeda dengan Rusdi, Suryanto, salah seorang pengusaha muda yang kebetulan juga nangkring di alun-alun itu, mempunyai pemikiran lain. Baginya, seorang pemuda tidak hanya harus bisa membaca peluang, namun harus bisa menjadi yang lain dari yang lain.

“Saya pribadi lebih suka menjadi yang lain, sekaligus nomor satu. Meski itu lebih menantang. Jadi misalnya, meski menjaja odong-odong itu terbukti sudah banyak yang sukses, namun saya sangat tidak berminat untuk terjun ke sana, meski peluangnya cukup besar. Jadi, kalau bisa kita memang harus menjadi yang berbeda dengan yang lain,”katanya berapi-api khas aktifis.

Bagi Atok, panggilan akrabnya, dunia usaha merupakan dunia yang sangat keras. Ia memang tidak menafikan, bahwa ada dunia lain yang tak kalah kerasnya, semisal dunia politik.

“Masuk ke dunia usaha, taruhannya sangat besar. Dunia politik misalnya, juga seperti itu. Namun, yang terpenting bagi saya dan yang pertama harus ditata adalah niat. Niat di sini, kalau saya pribadi, hasil yang diperoleh tak hanya kembali kepada saya, tapi semua orang bisa merasakan manisnya yang saya rasakan,”ujarnya sambil tersenyum.

Mengenai pendapat, bahwa kemajuan Sumenep berada di tangan kalangan muda, Atok segera mengamini. Menurutnya, itu bukan sekedar omong kosong, karena fakta yang ada saat ini sebagai jawabannya. ( Farhan, Esha )